A. TRITUNGGAL

September 14, 2009

1. BAPA, ANAK, ROH

Sudah sering orang Kristen mendengar dan menyebut nama “Bapa-Anak-Roh Kudus”, baik dalam doa-doa maupun ibadah. Itulah kenyataan mengenai Tuhan yang kita sembah. Meskipun demikian, tidaklah untuk mudah menjelaskan konsep teologis mengenai Ketuhanan Kristen ini.

“TIADA NAMA LAIN”

Hanya Kau Allah Bapaku

Tuhan Juru Slamatku

Saat kusebut namaMu Yesus

Kau menjawab imanku

Hanya Kau Raja Damaiku

Roh Kudus penghiburku

Saat ku ikut suaraMu Yesus

Kau berkati jalanku

Tiada nama lain yang berkuasa

menyelamatkan hidupku

Hanya nama Yesus yang kupercaya

Kau slalu sanggup menolongku

Lagu karya Jonathan Prawira yang diberi judul ”Tiada Nama Lain” ini mempunyai pesan-pesan tentang, pertama, keesaan Tuhan menurut iman Kristen yaitu Pribadi Bapa, Anak (Yesus), dan Roh Kudus. Kedua, Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia. Ketiga, Roh Kudus adalah Roh Penghibur dan Tuhan itu sendiri. Keempat, nama Yesus adalah nama yang penuh kuasa yang olehnya kita diselamatkan.

Pribadi Bapa harus dipahami secara utuh dalam kaitannya dengan Anak dan Roh Kudus. Kita tidak bisa membicarakan Pribadi Bapa tanpa membicarakan Pribadi Anak (Yesus) dan Pribadi Roh Kudus. Alkitab menjelaskan bahwa Tuhan kita adalah jamak. Ketika Tuhan membicarakan perihal diri-Nya, Ia memakai kata ganti bentuk jamak (Kej 1:26; 3:22; 11:7) dan kata kerja bentuk jamak (Kej 1:26; 11:7). Namun, Alkitab Perjanjian Lama jelas-jelas menegaskan tentang keesaan Tuhan: ”Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!” (Ul 6:4). Tuhan juga menyampaikan firman yang menunjukkan bahwa Dia adalah esa adanya: ”Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akullah Allah dan tidak ada yang seperti Aku” (Yes 46:9).

Alkitab Perjanjian Baru juga menegaskan bahwa Tuhan itu Esa: ”Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik!” (Yak 2:19a-b). Kepada jemaat Efesus, Paulus menegaskan tentang Tuhan yang esa: “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua” (Ef 4:3-6).

Baik Bapa, Yesus, maupun Roh Kudus, semuanya adalah Tuhan. Mengenai Bapa adalah Tuhan, Yesus berkata: “…sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya” (Yoh 6:27). Dalam suratnya, Petrus juga menegaskan bahwa Bapa itu adalah Tuhan: “…sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita….” (1 Ptr 1:2).

Yesus dinyatakan sebagai Tuhan dalam Alkitab. Yesus adalah sosok Pribadi yang menunjukkan ciri-ciri Tuhan seperti Mahatahu (Mat 9:4), Mahakuasa (Mat 28:18), Mahahadir (Mat 28:20). Ia pun melakukan hal-hal yang hanya dilakukan oleh Tuhan seperti tindakan mengampuni dosa (Mrk 2:1-12) dan membangkitkan orang dari kematian (Yoh 12:9). Yesus adalah Tuhan yang akan menghakimi semua manusia seperti ditulis dalam Injil: ”Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia” (Yoh 5:27).

Roh Kudus juga adalah Tuhan itu sendiri. Ketika Ananias mendustai Roh Kudus sesungguhnya ia mendustai Tuhan itu sendiri. Mengenai kebenaran itu Petrus berkata: ”Ananias, mengapa hatimu dikuasai iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? … Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah” (Kis 5:3-4).

Untuk memudahkan pemahaman tentang Tuhan yang esa, dikembangkanlah istilah-istilah dan ilustrasi-ilustrasi. Istilah ”Tritunggal” dan ”Trinitas” cukup memberi penjelasan, meskipun itu bukan istilah-istilah Alkitab. Teolog Charles Ryrie menggambarkan konsep ”tiga dalam satu” itu sebagai air yang unsur kimianya tetap walaupun dalam keadaan padat (es), gas (uap), atau cair (air).

B. BAPA

September 14, 2009

1. KUPANGGIL DIA BAPA

Hanya orang Kristen yang memanggil Tuhannya sebagai Bapa. Tuhan yang adalah Pencipta khalik langit dan bumi, Raja di atas segala raja, Penguasa jagad raya, berkenan menjadikan manusia sebagai anak-Nya. Sementara banyak kepercayaan lain mengidentifikasikan Tuhan sebagai Penguasa yang menakutkan, orang percaya menikmati keintiman sebagai anak-anak Bapa Surgawi.

”KAU TUHAN ADALAH BAPAKU”

Ku miliki kasihMu, yang tak ternilai bagiku

Meskipun tak kupunya, siapapun juga

Sungguh indah kasihMu, yang tak bersyarat untukku

Meskipun tak ada satu yang mengasihiku

Kau Tuhan adalah Bapaku yang sangat menyayangiku

Tak pernah sekalipun kudapati Kau sakiti hatiku

Kau Tuhan adalah Bapaku slalu memperhatikanku

Tak ada alasan kuragu-ragu tuk serahkan hatiku padaMu

Lagu karya Jonathan Prawira ini memuat beberapa pesan sebagai berikut. Pertama, penegasan iman bahwa Tuhan adalah Bapa bagi orang-orang percaya. Hal itu terungkap dalam judul dan syair-syairnya: ”Kau Tuhan adalah Bapaku”. Kedua, Tuhan adalah Pribadi Bapa yang mengasihi anak-anak-Nya. Ketiga, keyakinan akan Tuhan sebagai Bapa selayaknya mendorong komitmen untuk menyerahkan hidup kepada-Nya.

Tuhan sudah menyatakan diri sebagai Bapa sejak jaman Perjanjian Lama. Melalui nabi Yeremia, Tuhan berfirman kepada bangsa Israel: ”Dengan menangis mereka datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi Bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku” (Yer 31:9).

Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk memanggil Tuhan sebagai Bapa. Mengenai perihal doa, Yesus memberi arahan sebagai berikut: ”Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga….” (Mat 6:9). Karena mengajar bahwa Tuhan adalah Bapa-Nya maka Yesus ditolak: ”Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah” (Yoh 5:18)

Banyak bagian dalam Alkitab Perjanjian Baru yang menjelaskan bahwa Tuhan adalah Bapa, seperti yang didaftarkan oleh Elmer L. Towns sebagai berikut: ”Bapa, Tuhan langit dan bumi” (Luk 10:21), ”Bapa di Surga” (Luk 11:13), ”Bapa” (Yoh 4:23), ”Bapa-Ku” (Yoh 5:17), ”Bapa, Allah” (Yoh 6:27), ”Bapa kami satu, yaitu Allah” (Yoh 8:41), ”Bapa yang kudus” (Yoh 17:11), ”Bapa yang adil” (Yoh 17:15), ”Allah, Bapa kita” (Rom 1:7), ”Abba, Bapa” (Rom 8:15), ”Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 15:6), ”Bapa yang penuh belas kasihan” (2 Kor 1:3), ”Allah dan Bapa dari semua” (Ef  4:6), ”Bapa segala roh” (Ibr 12:9), dan ”Bapa segala terang” (Yak 1:17).

Kapan seorang manusia bisa memanggil Tuhan sebagai Bapanya? Kita menjadi anak Tuhan dan Tuhan menjadi Bapa kita setelah kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Penebusan oleh Yesus membawa kita menjadi anak Tuhan dan kita pun berhak memanggil Dia sebagai Bapa. Paulus menjelaskan demikian: ”Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ya Abba, ya Bapa!” (Gal 4:5-6). Kepada jemaat di Roma, Paulus menjelaskan prinsip ini dengan kalimat sebagai berikut: ”Sebab kamu tidak lagi menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ya Abba, ya Bapa!” (Rom 8:15).

Proses menjadi anak Bapa Surgawi disebut sebagai konsep pengangkatan (adoption). Prinsipnya, kepercayaan kita kepada Yesus menjadikan kita dilahirkan baru sebagai anak Tuhan. Kita dilahirkan menjadi anak-anak dalam keluarga Tuhan. Paulus menjelaskannya demikian: ”Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus” (Gal 3:26). Kita menjadi anak-anak Bapa bukan karena amal saleh atau ketekunan ibadah kita. Kita diangkat menjadi anak Tuhan karena percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

2. BAPA MENGENAL ANAK-ANAK-NYA

Kehidupan di dunia ini memberikan gambaran yang buruk mengenai sikap para ayah terhadap anak-anak mereka. Banyak orangtua tidak mempedulikan anak-anaknya. Mereka tak bisa dan tak mau menyelami hati anak-anaknya. Adapun Tuhan adalah Bapa yang memahami betul isi hati anak-anak-Nya.

”KAU MENGENAL HATIKU”

Hanya dekat kasihMu Bapa jiwaku pun tentram

Engkau menerimaku dengan sepenuhnya

Walau dunia melihat rupa namun Kau memandangku

Sampai kedalaman hatiku

Tuhan inilah yang kutahu Kau mengenal hatiku

Jauh melebihi semua yang terdekat sekalipun

Tuhan inilah yang kumau Kau menjaga hatiku

Supaya kehidupan memancar senantiasa

Pesan-pesan dari lirik lagu karya Jonathan Prawira ini adalah sebagai berikut. Pertama, sebagaimana judulnya, Tuhan adalah Bapa yang mengenal hati anak-anak-Nya. Ia mengenal kita jauh melebihi semua orang yang terdekat dengan kita, termasuk bapa biologis kita di dunia ini. Kedua, Tuhan adalah Bapa yang melihat kedalaman hati kita, bukan hanya melihat aspek luar dari diri kita. Ketiga, Tuhan menerima keadaan kita apa adanya. Keempat, kita perlu memohon agar Tuhan senantiasa menjagai hati kita supaya kita berkenan di hadapan-Nya.

Ayah atau senior kita tidak bisa mendalami isi hati kita sebagai anaknya atau sebagai yuniornya. Hal itu terlihat dari bagaimana Isai dan nabi Samuel menilai anak-anak Isai. Pada waktu itu, baik Isai maupun Samuel sama sekali tidak menduga kalau anak yang dipilih Tuhan menjadi raja Israel itu adalah Daud. Isai sendiri mengajukan ketujuh anaknya yang secara performance luar biasa. Apa kata Kitab Suci? Demikian firman Tuhan kepada Samuel: ”Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1 Sam 16:7).

Kemampuan seorang ayah untuk memahami hati anaknya sangat terbatas. Ketika Yusuf mendapat mimpi dari Tuhan dan kemudian ia menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya dan kepada ayah dan ibunya, sang ayah (Yakub) tidak sepenuhnya paham. Kitab Suci mencatat demikian: ”Setelah hal itu (mimpi itu) diceritakannya kepada ayah dan saudara-saudaranya maka ia ditegor oleh ayahnya: mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?” (Kej 37:10). Meskipun Yakub akhirnya menyimpan misteri mimpi itu di hatinya (Kej 37:11), Yakub pada dasarnya tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam diri Yusuf.

Di dunia ini, masalah-masalah yang melanda hubungan antara ayah dan anak seringkali bermula dari ketidakpahaman sang ayah terjadap hati sang anak. Ayah tidak tahu kesedihan hati anaknya. Ia tidak memahami kegelisahan hati anaknya. Ia tidak tahu kerinduan-kerinduan hati anaknya. Ia tidak mengerti obsesi-obsesi yang berkecamuk dalam hati anaknya. Yang banyak terjadi adalah ayah sengaja tidak mau peduli dengan hati anak-anaknya.

Tidak demikian dengan Bapa surgawi. Saat hati anak-anak-Nya lara, Bapa tahu. Saat hati anak-anak-Nya galau, Bapa membebat dengan kasihnya. Demikian disampaikan nabi Yeremia: ”Dengan menangis mereka datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi Bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku” (Yer 31:9).

Bapa surgawi tahu bagaimana menjaga hati anak-anak-Nya. Ia tak pernah melukai atau menyakiti hati anak-anak-Nya sendiri. Karena itu, Tuhan juga memerintahkan supaya kita memperlakukan anak-anak kita dengan baik. Demikian perintah Tuhan: ”Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Ef 6:4). Kalau sekarang kita merasa terluka karena Tuhan, itu bukan karena Tuhan jahat, namun Ia sedang mendidik dan mendewasakan kita. Penulis Ibrani mengingatkan demikian: ”Janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya” (Ibr 12:5)

3. KESETIAAN BAPA

Kesetiaan semakin hari semakin menjadi sesuatu yang langka di dunia. Banyak persahabatan hancur dan banyak keluarga pecah karena menurunnya kadar kesetiaan. Dalam keluarga Tuhan, kita mempunyai Sang Bapa yang setia. Ia setia akan janji-Nya dan setia dalam penyertaan-Nya atas kita.

BAPA YANG SETIA

Kau yang selalu mengasihiku dengan kasih yang kekal

PengorbananMu membuatku merasa berharga di mataMu

Kau yang selalu menyayangiku dengan kasih yang sungguh

KehadiranMu membuatku mengerti arti kehidupanku

Kau Tuhan adalah Bapa yang setia

Tiada sekalipun ku ditinggalkan

Penghiburan yang kurindukan selalu Kau sediakan

Slamanya kusembah Bapa yang setia

Takkan Kau biarkan ku terpisahkan

Yesus Kaulah sumber pertolonganku yang dapat kupercaya

Lagu karya Jonathan Prawira ini mempunyai pesan tentang, pertama, sebagaimana judul dan syairnya, penegasan bahwa Tuhan adalah Bapa yang setia. Kedua, kesetiaan Bapa itu terwujud dari kasih sayang-Nya kepada anak-anak-Nya. Ketiga, kesetiaan Bapa itu dinyatakan melalui penyertaan-Nya: ”Tiada sekali pun aku ditinggalkan”. Keempat, kesetiaan Bapa itu terwujud melalui penghiburan yang Ia berikan: ”Penghiburan yang kurindukan selalu Kau sediakan.”

Dalam Perjanjian Lama, beberapa kali Tuhan menyatakan diri-Nya dengan nama-nama yang menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan yang setia. Nama-Nya adalah Jehovah El Emeth yaitu Tuhan yang setia, terungkap dari Firman Tuhan: ”Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia” (Mzm 31:6). Nama-Nya yang lain adalah El Emunah yaitu Tuhan yang setia, seperti terungkap dalam Kitab Suci: ”Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa Tuhan, Allahmu, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan” (Ul 7:9). Pemazmur juga mencatat nama Tuhan sebagai Elohe Chasedi yang berarti Allahku dengan kasih setia-Nya: ”Allahku dengan kasih setia-Nya akan menyongsong aku; Allah akan membuat aku memandang rendah seteru-seteruku” (Mzm 59:11).

Prinsip bahwa Tuhan adalah Bapa yang setia dalam arti setia pada janji-Nya dan setia menyertai anak-anak-Nya dapat dilihat dari karya Roh Kudus. Pertama, Bapa dan Roh Kudus adalah Tuhan yang esa. Yesus menjelaskan kesatuan itu sebagai berikut: ”Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu (Roh Kudus); Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10:20). Nama ”Roh Bapa” menjelaskan Roh Kudus sebagai Pribadi yang memiliki hakikat yang sama dengan yang dimiliki Allah Bapa.

Kedua, Roh Kudus adalah ”janji Bapa” untuk orang-orang percaya. Janji tentang Roh Kudus itu diberikan Bapa sejak jaman Perjanjian Lama seperti dinubuatkan nabi Yoel: ”Kemudian pada hari itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orang yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu” (Yl 2:28-29). Yesus menyebut Roh Kudus sebagai ”janji Bapa”. Yesus berkata: ”Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal diam di kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk 24:49). Penegasan Yesus soal ”janji Bapa” itu juga dicatat dalam Kitab Para Rasul: ”Pada suatu hari Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang – demikian kata-Nya – telah kamu dengan dari pada-Ku” (Kis 1:4).

Tuhan adalah Bapa yang setia karena Ia menggenapi janji-Nya itu. Roh Kudus yang adalah ”janji Bapa” itu dicurahkan pada hari Pentakosta (Kis 2). Pada momen itu, Petrus menyitir kembali nubuatan nabi Yoel mengenai ”janji Bapa” tentang kehadiran Roh Kudus (Kis 2:17-18). Roh Kudus itu adalah Roh yang keluar (ekporeuomai) dari Bapa sendiri yang merupakan Penghibur bagi setiap orang percaya. Mengenai hal itu Yesus menjelaskan: ”Jikalau Penghibur (Penolong) yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar (ekporeuomai) dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh 15:26).

C. MEMBERKATI

September 14, 2009

1. BERKAT BAPA

Banyak anak menderita dan melarat karena orangtua mereka miskin. Anak-anak orang kaya beruntung karena orangtua mereka mampu mencukupi kebutuhan mereka dan bahkan memberinya secara berkelimpahan. Bapa di sorga yang kaya raya memberikan kelimpahan, bukan hanya berkat materi tetapi juga berkat rohani.

”BERKAT TUHAN YANG MENJADIKAN KAYA”

Bapa tiada kuragu akan kasihMu

Yang bersedia brikan segalanya

Bapa, Kaulah yang tahu smua yang kuperlu

Sebelum kumengatakannya

Seperti burung di udara Kau pun plihara

Terlebih hidupku Kau pandang berharga

Dalam sgala perbuatanku aku percaya

Hanya berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya

Lagu karya Jonathan Prawira ini jelas berbicara tentang berkat. Pertama, Bapa surgawi mengasihi kita sehigga Ia memenuhi segala keperluan kita. Kedua, Ia sudah tahu kebutuhan kita dan mencukupinya sebelum kita mengatakannya. Ketiga, Bapa memberkati karena Ia memelihara kehidupan kita. Keempat, Bapa mau supaya anak-anak-Nya menjadi kaya.

Pada prinsipnya Bapa berencana untuk memberkati anak-anak-Nya. Penyaliban Anak-Nya yang tunggal itu, Yesus Kristus, bukan hanya dimaksudkan untuk menebus manusia dari dosa tetapi juga dari kemiskinan. Paulus menulis demikian: ”Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekali pun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Kor 8:9).

Bapa sorgawi memberkati kehidupan anak-anak-Nya karena Ia bertanggungjawab untuk memelihara anak-anak-Nya itu. Mengenai konsep itu, Yesus memberi ilustrasi demikian: ”Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Mat 6:26). Selanjutnya, Yesus juga memberi ilustrasi mengenai bunga bakung di ladang yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun dapat ’berpakaian’ lebih indah dari Salomo yang kaya raya itu (Mat 6:28-29). Gambaran-gambaran yang diberikan Yesus itu jelas menunjukkan bahwa Tuhan adalah Bapa Pemelihara kehidupan segala mahluk. Apaagi mengenai kebutuhan hidup orang percaya yang adalah anak-Nya sendiri, pastllah Bapa memberi perhatian sangat khusus.

Mengenai masalah berkat, sebenarnya Bapa pasti memberi tanpa harus kita minta. Pertama, itu perkara mudah bagi Bapa yang adalah Pencipta khalik langit dan bumi. Kedua, berkat itu pasti diberikan karena Bapa tahu kalau kita memerlukannya (Mat 6:32). Ketiga, itu pasti karena Bapa mempedulikan kehidupan anak-anak-Nya sendiri. Yesus sendiri mengajarkan juga bahwa berkat itu pasti diberikan meskipun kita belum atau tidak memintakannya kepada Bapa. Berkat-berkat itu datang secara otomatis asal hidup kita benar di hadapan Bapa. Kata Yesus: ”Tetapi carilah dulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu (berkat materi) akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33).

Mengenai kenyataan bahwa berkat Bapa itu diberikan tanpa kita memintakannya lebih dahulu dapat dilihat dari pengalaman raja Salomo. Waktu itu, setelah Salomo mempersembahkan korban, Tuhan menghampirinya dalam mimpi dan berfirman: ”Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” (1 Raj 3:5b). Mengenai tawaran itu, Salomo tidak meminta berkat materi atau kekayaan. Yang ia minta adalah hikmat illahi supaya ia dapat menjadi pemimpin yang arif. Hal itu dinilai baik oleh Tuhan (1 Raj 3:10) karena berarti Salomo mendahulukan Tuhan, atau menurut Yesus ia ”mencari dulu Kerajaan Allah”. Akibatnya, Tuhan menjawab doa itu dan sekaligus memberi berkat-berkat materi (kekayaan). Firman Tuhan kepada Salomo: ”Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu…. Dan juga yang tidak kauminta aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorang pun seperti engkau di antara raja-raja” (1 Raj 3:11-13).

D. MAHAKASIH

September 14, 2009

1. EXTRAORDINARY LOVE

Pada dasarnya semua kebudayaan dan agama mengajarkan prinsip-prinsip kasih sayang. Namun, kasih sayang yang diajarkan Tuhan itu berbeda, lain dari yang lain, atau lebih tepatnya: ekstrim. Tuhan Yesus sangat radikal dalam soal kasih.

”BUKAN KASIH BIASA”

Kasih itu sabar, murah hati

Kasih tak cemburu, tak megahkan diri

Kasih tak mencari keuntungan sendiri

Itulah kasih yang paling sejati

KasihMu Tuhan yang kurasakan

Indah dan tiada berkesudahan

Sbab kasihMu bukan kasih biasa

KasihMu Tuhan tak tergantikan

Oleh apapun yang ditawarkan

Sbab kasihMu bukan kasih biasa

Kasih tidak sombong dan pemarah

Kasih tak menyimpan semua kesalahan

Kasih mau menanggung segala sesuatu

Itulah kasih yang telah Kau beri

Lagu Jonathan Prawira ini diberi judul “Bukan Kasih Biasa”. Pesannya adalah, pertama, kasih Tuhan itu luar biasa. Kedua, ajaran kasih Kristen mencakup berbagai perilaku kasih seperti: sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak mencari untung sendiri, tidak sombong, tidak pemarah, tidak menyimpang kesalahan, dan mau menanggung segala sesuatu.

Tuhan adalah Raja Penguasa semesta yang menetapkan hukum yang disebut ”hukum kasih”. Demikian penjelasan Yesus: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilan sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:37-40).

Dalam rangka itulah maka Tuhan menjadikan kasih sebagai hal yang sangat penting. Paulus memberikan satu pasal khusus untuk menyampaikan ketetapan Tuhan mengenai kasih itu (1 Kor 13). Menurut J. Wesley Brill. Pasal itu dapat dibagi menjadi tiga bagian, pertama, bagian tentang prinsip bahwa tanpa kasih maka segalanya tidak akan berarti (ayat 1-3). Kedua, bagian tentang keutamaan dan kemuliaan kasih (ayat 4-7). Ketiga, bagian tentang kekekalan kasih (ayat 8-13).

Pada bagian kedua, keutamaan dan kemuliaan kasih, Paulus mendaftarkan penerapan kasih yang dikehendaki Tuhan: ”Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan da tidak mencari keuntungnan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Kor 13:4-7)

Tuhan menegaskan bahwa kasih itu kekal. Kasih itu tidak berkesudahan (1 Kor 13:8). Karunia-karunia Roh (nubuat, bahasa roh, pengetahuan) yang dibutuhkan dan beroperasi sekarang akan lenyap (1 Kor 13:8), yaitu setelah Kedatangan Kristus Kedua Kali (KKKK). Karena itu, kita diperintahkan untuk mengejar kasih sebagai yang terutama dengan tanpa mengesampingkan karunia-karunia Roh (1 Kor 14:1).

Adapun kasih versi Yesus, sangat ekstrim, super radikal. Itu bukan kasih biasa, extraordinary love. Yesus bahkan mengajarkan bagaimana mengasihi musuh: ”Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:43-44).

Dunia, kebudayaan-kebudayaan, dan agama-agama mengajarkan kasih dengan masih mempertimbangkan untung-rugi dan menghitung balasan. Dalam tradisi gotong-royong di Jawa misalnya, seolah-olah orang rela bekerja-bakti menolong sesama warga desanya. Tetapi, ketika pada suatu saat ia mempunyai perhelatan dan para tetangganya tidak ikut membantu, ia akan memperguncingkannya. Berarti, kasih itu menuntut balasan. Beda dengan Yesus. Kata-Nya: ”Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu…. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka” (Luk 6:30-32).

2. AMAZING LOVE

Kasih sayang merubah segala yang buruk menjadi baik. Kasih orangtua merubah perangai anak-anaknya. Kasih sayang istri melembutkan hati suaminya. Kasih seorang guru membarui semangat para muridnya. Kasih Tuhan menjadikan manusia berdosa berubah menjadi ciptaan baru.

”KASIHMU TIADA DUANYA”

Belum pernah ada

Kasih di dunia

Sanggup menerima diriku apa adanya

Selain kasihMu Yesus

Takkan ada lagi

Kasih sperti ini

Sanggup mengubahkan hidupku

Menjadi baru

Selain kasihMu Yesus

Kau kukagumi dalam hati

KasihMu tiada duanya

Sampai kini kuakui

KasihMu tiada duanya

Lagu Jonathan Prawira ini mengatakan bahwa, pertama, Tuhan itu menerima kita apa adanya karena Ia mengasihi kita. Kasih di dunia tidak ada yang seperti itu (”Belum pernah ada kasih di dunia, sanggup menerima diriku apa adanya”). Kedua, karena kasih-Nya maka kita diubahkan menjadi ciptaan baru. Syairnya demikian: ”Kasih sperti itu sanggup mengubahkan hidupku menjadi baru”.

Mengenai bagaimana Tuhan menerima manusia berdosa apa adanya, Injil mencatat sebuah peristiwa dramatis. Suatu hari, dalam rangka mencobai, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah (Yoh 8:3). Mereka mengingatkan Yesus bahwa orang berzinah harus dirajam batu. Mereka berharap Yesus menyetujui prinsip itu dan bahkan melakukan sendiri hukuman itu. Namun Yesus tidak melakukannya. Dengan hikmat Ia berkata: ”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7). Akhirnya, mereka semua pergi dan tak seorang pun mengeksekusi hukuman atas perempuan itu. Kata Yesus kepada perempuan itu: ”Aku pun tidak menghukum engkau . Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang” (Yoh 8:11).

Pada kesempatan lain, ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya (Mat 9:10). Hal itu dianggap aneh oleh orang Farisi, katanya kepada para murid: ”Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Mat 9:11). Yesus menjawab: ”Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:13).

Yesus menerima kita apa adanya, tetapi bukan berarti setuju dengan dosa-dosa kita. Yesus menerima manusia apa adanya, separah apa pun dosa dan kesalahannya, dengan tujuan diubah-Nya menjadi manusia baru. Firman Tuhan: ”Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes 1:18).

Karena kasih-Nya maka Tuhan memberikan Yesus supaya kita yang percaya diubahkan menjadi ciptaan baru. Inilah yang disebut kelahiran baru (genethe anothen). Yesus mengatakan prinsip demikian: ”Sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yoh 3:3). Lanjut-Nya: ”Sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk dalam Kerajaan Allah” (Yoh 3:5). Dr. Chris Marantika memberi pengertian bahwa kelahiran baru adalah aktivitas Roh Allah yang memberikan kodrat baru kepada seorang berdosa didasari oleh karena ia telah menerima Yesus Kristusn sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.

Kasih Kristus menjadikan kita manusia baru. Paulus menegaskan demikian: ”Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor 5:17).

Proses pembaruan itu merupakan proses yang illahi yang terjadi dalam diri seorang manusia. Pertama, karena menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat maka Roh Kudus hadir, tinggal dalam diri kita, dan berkarya sehingga menjadikan kita kodrat baru (Yoh 3:5, 6-12). Kedua, Firman Tuhan yang membuahkan pertobatan dilukiskan sebagai air yang membersihkan (Yoh 3:5).

E. MAHAPENGAMPUN

September 14, 2009

1. KASIH DAN PENGAMPUNAN (1)

Beberapa bagian Alkitab cukup puitis. Kitab Mazmur sendiri dikategorikan sebagai kitab puisi. Namun, pesan mengenai kasih dan pengampunan Tuhan bukan sekedar bualan hiperbolis. Kasih dan pengampunan Tuhan itu benar dan nyata.

“SEJAUH TIMUR DARI BARAT”

Sejauh timur dari barat, Engkau membuang dosaku

Tiada Kau ingat lagi pelanggaranku

Jauh ke dalam tubir laut Kau melemparkan dosaku

Tiada Kau perhitungkan kesalahanku

Betapa besar kasih pengampunanMu Tuhan

Tak Kau pandang hina hati yang hancur

Ku berterima kasih kepadaMu ya Tuhan

Pengampunan yang Kau beri pulihkanku

Jonathan Prawira hendak menekankan betapa besarnya kasih dan pengampunan Tuhan. Syair yang ditulisnya indah dan Alkitabiah: ”Sejauh timur dari barat, Engkau membuang dosaku; Tiada Kau ingat lagi pelanggaranku; Jauh ke dalam tubir laut Kau melemparkan dosaku; Tiada Kau perhitungkan kesalahanku.”

Syair itu diambil dari Alkitab: ”Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mzm 103:12). Anugerah pengampunan yang diberikan Tuhan ini sebenarnya merupakan bagian dari apa yang disebut Matthew Henry sebagai kebaikan dan belaskasihan (goodness and comppasion) Tuhan (Mzm 103:6-18). Tuhan itu baik bagi semua orang, adil bagi semua orang (Mzm 103:6). Karena itu, pertama, Ia menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya: ”Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel”  (Mzm 103:7).

Kedua, Tuhan yang penuh kasih itu selalu siap untuk mengampuni (ready to forgive). Ia tidak marah (slow to anger): ”Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm 103:8). Kemarahannya juga tidak lama (not long to anger): ”Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam” (Mzm 103:9).

Ketiga, karena kasih maka Tuhan memaafkan atau mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita. Hal itu dilakukannya karena Ia memiliki kekayaan akan belas kasihan illahi (the trancendent riches of God’s mercy): ”Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm 103:11). Karena itu ia memiliki kepenuhan dalam pengampunan (the fullness of his pardon): “”Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mzm 103:12). Ungkapan ilustratif geografis dari timur ke barat menunjukkan betapa panjangnya kasih Tuhan (the great extent).

Keempat, kasih dan pengampunan itu merupakan manifestasi dari belas kasihan Tuhan kepada manusia: ”Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikianlah Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm 103:13). Mengapa Tuhan memiliki belas kasihan kepada manusia? Jawabnya adalah karena Ia memaklumi eksistensi kita, penderitaan kita, dan kehinaan kita sebagai manusia berdosa: ”Sebab Ia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu” (Mzm 103:14).

Kelima, Tuhan memutuskan untuk melanjutkan atau meneruskan kasih sayang dan pengampunaannya atas kita. Kasih sayang Tuhan tidak sependek usia manusia. Kasih Tuhan melampaui batas usia kita, baik bagi kita sendiri yang setelah mati akan hidup dalam kekekalan maupun bagi generasi-generasi yang hidup setelah kita. Mengenai kontinuitas kasih dan pengampunan Tuhan itu pemazmur menulis: ”Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikian ia berbunga; apabila angin melintasinya maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi. Tetapi kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya” (Mzm 103:15-18).

2. KASIH DAN PENGAMPUNAN (2)

Manusia bisa saja mengampuni orang yang bersalah kepadanya, namun masalah melupakan masa lalu bukan perkara gampang. Tak jarang, ketika orang itu melakukan kesalahan lagi, kita mengungkit-ungkit hal-hal yang sudah-sudah. Seperti itulah yang sering terjadi dalam hubungan antara suami dan istri, antara bapa dan anaknya. Tidak demikian dengan Tuhan kita.

“MENGAMPUNI DAN MELUPAKAN”

Kau menanggung kutuk dosaku

Betapa pun besarnya itu

Sehingga Bapa di surga

Memalingkan wajah dariMu

Kau lunasi hutang dosaku

Betapa pun mahalnya itu

Tak pernah sekali jua

Kau mengungkit lagi masa lalu

Mengampuni dan melupakan

Itulah yang Engkau lakukan (ajarkan)

Supaya ku kan mengampuni dan melupakan

Lagu Jonathan Prawira berbicara tentang kasih dan pengampunan Tuhan. Pertama, Tuhan menebus dosa-dosa kita. Kedua, prinsip yang dijadikan judul lagu – “Mangampuni dan Melupakan” – adalah sekali mengampuni maka Tuhan tidak pernah mengungkit-ungkin dosa-dosa kita di masa lalu. Ia melukapan semua kesalahan-kesalahan kita, betapa pun besarnya itu. Mengampuni dan melupakan merupakan konsep pengampunan yang diajarkan Tuhan.

Pada masa Perjanjian Lama, Tuhan sudah menyatakan diri sebagai Penebus yang mengampuni tanpa mengingat-ingat dosa bangs Israel di masa silam. Demikian Firman-Nya melalui nabi Yesaya: “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh  karena Aku sendiri, dan aku tidak mengingat-ingat  dosamu” (Yes 43:25). Padahal bangsa itu, kata Tuhan, sudah memberati Tuhan dengan dosa-dosa mereka dan sudah menyusahkan Tuhan dengan kesalahan-kesalahan mereka (Yes 43:24).

Apa yang dilakukan Yesus kepada Petrus pasca kebangkitan-Nya menunjukkan bahwa Yesus tidak mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu murid-Nya. Petrus adalah sosok murid yang gegabah. Keinginannya kuat tetapi sering tidak konsisten. Menjelang Yesus ditangkap dan kemudian disalibkan, Petrus dengan mantab menyatakan komitmennya kepada Yesus: “Biarpun mereka semua terguncang imannya, aku tidak!” (Mrk 14:29). Kenyataannya, Petrus menyangkal tiga kali sebelum ayam berkokok (Mrk 14:66-72), tepat seperti yang dinubuatkan Yesus (Mrk 14:30). Namun, meskipun itu sangat memalukan dan mengecewakan, Yesus tidak mengungkitnya kembali. Sebaliknya, tiga kali Petrus menyangkal, tiga kali pula Yesus memberinya kepercayaan untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:15-17). Artinya, sebanyak apa Petrus melakukan dosa, sebanyak itu pulalah Tuhan mengampuni, menghibur, mengangkat, dan bahkan mempercayainya kembali.

Prinsip bahwa Tuhan mengampuni dan melupakan dosa kita terkandung dalam konsep “pembenaran” (justification) dalam proses keselamatan (salvation) di dalam Kristus. Pada prinsipnya, semua manusia itu tidak benar, semuanya berdosa. Paulus membeberkan ketidakbenaran manusia itu sebagai berikut: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah….” (Rom 3:10-14). Tetapi, begitu percaya kepada Yesus maka manusia dibenarkan dengan cuma-cuma: “Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rom 3:24).

Keselamatan berarti pembenaran dan pengkudusan oleh Kristus seperti ditulis Paulus: “Tetap oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor 1:30). Begitu percaya kepada Yesus serta menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, status kita berubah menjadi “orang benar” atau “orang kudus” milik Tuhan. Itulah yang disebut sebagai pengkudusan secara posisional (positional sanctification). Meskipun jemaat Korintus masih jatuh bangun dalam dosa, secara posisi mereka adalah umat Tuhan yang kudus. Paulus menyebut mereka sebagai orang-orang kudus (1 Kor 1:2). Tetapi, meskipun Tuhan melupakan dosa-dosa masa lalu, Tuhan juga ingin supaya kita bertumbuh dalam kekudusan secara terus menerus (progressive sanctification).

F. MENYERTAI

September 14, 2009

1. TUHAN MENYERTAI

Kehadiran dan penyertaan Tuhan tak selalu membuat kehidupan serba nyaman atau ”everything is OK”. Sebagian orang Kristen berpikir sempit, ada Tuhan maka ada berkat. Pikirannya berkat melulu. Cobalah pikirkan bahwa Yesus adalah seorang Guru. Kalau guru masuk kelas maka selalu ada proses belajar, termasuk latihan dan ujian!

”ARTI KEHADIRANMU”

JalanMu tak terselami

Oleh setiap hati kami

Namun satu hal ku percaya

Ada rencana yang indah

Tiada terduga kasihMu

Heran dan besar bagiku

Arti kehadiranMu slalu

Nyata di dalam hidupku

PenyertaanMu sempurna, rancanganMu penuh damai

Aman dan sejahtera walau di tengah badai

Ingin ku slalu bersama, rasakan keindahan

Arti kehadiranMu Tuhan

Lagu Jonathan Prawira ini membawa pesan, pertama, Tuhan senantiasa menyertai kehidupan anak-anak-Nya. Kehadiran dan penyertaan-Nya itu begitu nyata. Kedua, penyertaan Tuhan itu senantiasa mengandung arti atau makna, yaitu menyatakan rencana Tuhan yang sekalipun indah namun seringkali tak terduga dan tak terselami secara nalar.

Teolog Charles C. Ryrie mendaftarkan empat belas sifat Tuhan: (1) Kekal, Tuhan itu selalu ada dan tidak pernah berakhir, (2) Bebas, Tuhan tidak tergantung dari mahluk-mahluk dan ciptaan-ciptaan-Nya, (3) Tetap, Tuhan tidak dapat berubah dan karena itu tidak berubah, (4) Tak terbatas, Tuhan tidak terikat atau terbatas, (5) Suci, Tuhan terpisah dari segala sesuatu yang najis dan jahat dan Tuhan itu bersih sehingga berbeda dari semua yang lain, (6) Kasih, Tuhan itu baik, (7) Mahakuasa, Tuhan itu kuat dalam segala-galanya dan sanggup melakukan apa saja yang sesuai dengan sifat-Nya sendiri, (8) Mahahadir, Tuhan hadir di mana-mana dengan seluruh keberadaan-Nya pada segala waktu, (9) Mahatahu, Tuhan mengetahui segala sesuatu, (10) Adil, Tuhan adil dalam hukum, moralitas, dan peradilan-Nya, (11) Sederhana, Tuhan itu bukan suatu Pribadi campuran atau terdiri dari berbagai campuran, (12) Berdaulat, Tuhan adalah Pribadi yang utama di alam semesta, (13) Benar, Tuhan itu konsisten dengan diri-Nya sendiri, Tuhan menyatakan diri-Nya sebagaimana sebenarnya, Tuhan dan pernyataan-Nya sepenuhnya dapat dipercaya, (14) Esa, Tuhan itu satu dan tak dapat dibagi-bagi.

Tuhan hadir di mana-mana sehingga manusia tak bisa lari dari kehadiran-Nya seperti kata Daud: ”Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau” (Mzm 139:7-8). Karena itu, kita bisa berdoa di mana saja. Doa Yunus dari dalam perut ikan pun didengar Tuhan (Yun 2).

Bagi orang percaya, kehadiran Tuhan berarti penyertaan Roh Kudus di sepanjang hidupnya, di mana saja, kapan saja. Roh Kudus mendiami (indwelling) kita sehingga kita menjadi Bait Roh Kudus (1 Kor 6:19). Roh Kudus adalah Penolong yang senantiasa menyertai kita selama-lamanya (Yoh 14:16). Bukan hanya itu, Roh Kudus juga memenuhi (filling) orang percaya. Artinya, Roh Kudus menguasai atau mengontrol total hidup orang percaya (Ef 5:18). Di mana saja dan kapan saja, Roh Kudus bersama kita, menolong kita, dan melingkupi kita.

Ketika Roh Kudus hadir dalam diri kita, kekuatan Tuhan membual dari dalam diri kita. Karena itu dalam diri kita akan muncul manifestasi kekuatan berupa karakter illahi atau buah-buah Roh (Gal 5:22-23). Roh Kudus juga memanifestasikan kuasa berupa karunia-karunia supranatural (1 Kor 12:1-11). Orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus akan hidup dalam kelimpahan berkat, kasih, kuasa, dan tanda-tanda ajaib.

Kalau Tuhan menyertai, tak berarti hidup kita serba nyaman (comfort zone). Ingatlah bahwa Yesus adalah Guru. Kalau seorang guru masuk kelas pasti terjadi proses belajar mengajar, termasuk latihan dan ujian. Tuhan adalah Pendidik yang seringkali melatih kita dengan keras, bahkan memberi hajaran dan sesahan (Ibr 12:5-6). Yesus tak hanya membawa para murid untuk memperoleh ikan berlimpah, tetapi juga membawa meraka memasuki kawasan badai (Mrk 4:35-41). Waktu itu seolah-olah Yesus tak peduli (tidur di buritan). Hal itu sengaja dilakukannya untuk melatih supaya para murid-Nya bisa mempraktekkan iman. Itulah sebabnya hidup orang percaya seperti sebuah misteri, kadang seolah-olah tidak ada pertolongan. Namun sebenarnya Tuhan selalu menyertai. Meskipun misterius, rencana-Nya itu indah karena Dia selalu bersama kita.

2. TUHAN MENYERTAI (2)

Dari nama Tuhan kita mengetahui pribadi Tuhan. Nama Immanuel yang berarti Tuhan menyertai mengandung janji bahwa orang percaya senantiasa akan disertai oleh Tuhan. Tuhan sudah memunculkan nama itu sejak ratusan tahun sebelum Yesus dilahirkan, bukti bahwa Tuhan sangat serius dengan komitmen-Nya itu.

”IMMANUEL”

Kutidak takut Kau besertaku

Kau tak pernah meninggalkanku

Aku dijaga aku dibela

Oleh tanganMu yang berkuasa

Immanuel 2x yang besertaku

Tuhan Allah yang hidup

Lagu Jonathan Prawira ini memberi penegasan bahwa Tuhan selalu beserta kita. Yesus sendiri disebut Immanuel yang berarti Tuhan menyertai kita. Penyertaan Tuhan itu berarti, pertama, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kedua, Tuhan senantiasa menjagai kita. Ketiga, Tuhan membela kehidupan kita.

Nama Immanuel berasal dari bahasa Ibrani (immanu’el) yang artinya adalah Tuhan beserta kita. Nama itu pertama kali muncul ketika nabi Yesaya menguatkan raja Ahas. Waktu itu, raja Yehuda ini sedang gentar menghadapi para musuhnya. Tuhan menyuruh Yesaya untuk menguatkan Ahas supaya tidak usah takut karena musuh-musuhnya akan segera dikalahkan. Mengenai janji kemenangan bagi Yehuda itu, Tuhan memberi ”tanda” yang disampaikan nabi Yesaya: ”Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Immanuel” (Yes 7:14).

Firman Tuhan yang disampaikan melalui Yesaya itu ternyata adalah nubuatan tentang Yesus Kristus. Kata yang dipakai, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai ”seorang perempuan muda”, itu adalah alma yang berarti seorang wanita muda yang belum menikah. Jadi, kelahiran anak dari kandungannya merupakan sebuah peristiwa supranatural. Demikianlah kelak di kemudian hari Maria yang belum pernah bersetubuh dengan tunangannya (Yusuf) mengandung dan melahirkan Yesus. Malaikat yang menemui Yusuf dalam mimpi menjelaskan sebagai berikut: ”Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus…. Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Immanuel yang berarti: Allah menyertai kita” (Mat 1:20-23).

Tuhan yang menyertai orang percaya adalah Penolong yang tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Penulis Ibrani mengatakan demikian: ”…Allah telah berfirman: Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Ibr 13:5-6).

Tuhan menyertai kita seperti gembala yang menyertai domba-dombanya. Nama-Nya Johova Roi, Tuhan adalah gembala (Mzm 23:1). Hubungan gembala-domba menunjuk pada peran dominan gembala dalam mengayomi kawanan ternaknya. Domba adalah hewan lemah, mudah tersesat, dan mudah menjadi korban. Bahkan menurut riset sebagaimana disitir Elmer L. Towns, jika seekor domba yang kekenyangan berbaring dan tidak ada orang yang membalikkan tubuh mereka supaya bisa berjalan maka hewan itu bisa mati lemas. Yesus adalah gembala yang sangat care. Ketika seekor domba hilang maka Ia akan mencarinya sampai ketemu (Luk 15:4).

Namun, janji penyertaan Tuhan bukan untuk kepentingan orang percaya semata. Tuhan bukan satpam atau body guard kita. Penyertaan-Nya adalah wujud kasih sayang, kepedulian, pertolongan, dan bimbingan-Nya. Lebih dari itu, Tuhan berjanji untuk menyertai karena setiap orang percaya harus menjalankan Amanat Agung. Tugas itu tidak ringan, namun Tuhan berjanji menyertai seperti dikatakan Yesus sendiri: ”Pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman” (Mat 28:19-20). Penyertaan ini bersifat supranatural, memberi kemampuan-kemampuan adikodrati, dan meneguhkan pelayanan orang percaya dengan mujizat-mujizat dan perkara-perkara illahi yang ajaib (Mrk 16:17-20).

G. MAHAHADIR

September 14, 2009

1. TUHAN HADIR DALAM PENYEMBAHAN (1)

Pujian dan penyembahkan kita hendaknya dilakukan dengan dasar pengertian imani bahwa Tuhan adalah Sang Raja. Dialah yang harus dipuji dan disembah. Sekalipun Tuhan adalah Bapa dan bahkan Sahabat yang kepada-Nya kita dimungkinkan menjadi sangat karib dan mesra, Tuhan tetaplah Raja yang harus disembah dengan khidmad dan dengan penuh kerendahan hati.

”KAN KUBANGUN TAHTAMU”

Kau bukan bersemayam dalam buatan tangan manusia

Namun Kau tlah berkenan bertahta di atas puji-pujian

Bertahta di dalam hati manusia

Kan kubangun tahtaMu di atas pujianku

Kan kubangun tahtaMu di dalam hatiku

TahtaMu Tuhan

Lagu karya Jonathan Prawira ini memberikan pengertian bahwa Tuhan adalah Raja yang bertahta di atas puji-pujian umat-Nya. Karena Dia adalah Raja maka sudah selayaknya jika segenap umat manusia memuji dan menyembah kepada-Nya. Satu hal yang harus dipahami adalah Tuhan bertahta dalam hati setiap orang percaya. Dialah Tuhan dalam hidup kita.

Sebagai seoarang penyembah, Daud menempatkan Tuhan sebagai Raja yang harus dilayaninya. Inilah ungkapan pujian Daud kepada Tuhan: ”Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Besarlah Tuhan dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tak terduga” (Mzm 145:1-3).

Dalam mazmur-mazmurnya, Daud yang adalah seorang raja mengakui dan memghormati kebesaran Tuhan Sang Raja. Tuhan adalah Raja di atas segala raja. Tuhan berkuasa atas segala raja di dunia, Ia bisa menjatuhkan atau mengangkat raja-raja di bumi ini. Konsep Tuhan Sang Raja muncul dalam berbagai bagian mazmur Daud baik mazmur yang bersifat doa maupun mazmur penggungan: ”Ya Tuhan, berikanlah kemenangan kepada raja! (Mzm 20:10a), ”Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja kemuliaan! Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan, jaya dan perkasa, Tuhan perkasa dalam peperangan!” (Mzm 24:7-8), ”Tuhan bersemayam di atas air bah, Tuhan bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya” (Mzm 29:10), ”Engkau memberikan kemenangan kepada raja-raja, dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu!” (Mzm 144:10).

Dalam Perjanjian Lama, Tuhan menyatakan diri kepada nabi Yesaya sebagai Raja (Jehova Melek). Dalam visinya, Yesaya merasa najis karena berjumpa dengan Sang Raja: ”Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (Yes 6:5). Tuhan adalah Raja yang duduk di atas tahta yang tinggi surgawi, ujung jubahnya memenuhi Bait Suci (Yes 6:1). Kitab Suci juga mencatat bahwa Tuhan bersemayam di atas para kerub (1 Sam 4:4). Dalam visi Yesaya, para malaikat (kerub) itu memuji Raja: ”Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya” (Yes 6:3). Akibat penyembahan itu maka turunlah ”asap” yaitu awan kemuliaan Shekinah yang terbentang dari surga ke bumi (Yes 6:4).

Dalam penglihatan Yesaya terlihat hubungan antara Tuhan Sang Raja dengan pujian-penyembahan dan kekudusan. Karena itu Yesaya segera merasa bahwa dirinya najis dan tidak layak. Mulut najis tidak berkenan sebab mulut seharusnya dipakai untuk memuji Tuhan. Kemudian, pujian penyembahan mutlak dilakukan terhadap Tuhan Sang Raja. Pujian-penyembahan itu menyebabkan kehadiran Tuhan Sang Raja bermanifestasi dengan turunnya awan kemuliaan Shekinah. Hal itulah yang terjadi pada saat kita menyebah Tuhan dalam kekudusan, hadirat Tuhan Raja bermanifestasi dahsyat.

Dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus berkenan tinggal, mendiami, dan memenuhi diri kita (1 Kor 6:19; Ef 6:18). Dengan demikian, Tuhan Sang Raja tinggal dalam diri orang percaya. Akibatnya, setiap orang percaya mempunyai otoritas kerajaan. Karena itu, setiap orang percaya bisa melakukan pekerjaan-pelayanan dengan kekuatan illahi, termasuk tentu saja mengusir setan-setan.

2. TUHAN HADIR DALAM PENYEMBAHAN (2)

Pada masa Perjanjian Lama, Tuhan hadir di Kemah Sembahyang (Tabernakel) dan Bait Suci. Pada masa Perjanjian Baru, tubuh kitalah Bait Roh Kudus itu. Suasana pujian-penyembahan dinaikkan dan manifestasi hadirat Tuhan begitu nyata baik dulu maupun sekarang.

”SATU HAL YANG KURINDU”

Satu hal yang kurindu

Berdiam di dalam rumahMu

Satu hal yang kupinta

Menikmati baitMu Tuhan

Lebih baik satu hari di pelataranMu

Dari pada sribu hari di tempat lain

MemujiMu menyembahMu

Kau Allah yang hidup

Dan menikmati smua kemurahanMu

Syair lagu Jonathan Prawira berisi pernyataan kerinduan akan hadirat Tuhan. Tinggal di dalam hadirat Tuhan dan menikmati kehadirannya itu memberi kepuasan spiritual yang tak tergantikan oleh apapun kenikmatan dunia. Lagu ini menyatakan kehausan para penyembah akan hadirat Tuhan.

Dalam konteks Perjanjian Lama, Tuhan itu hadir di Kemah Sembahyang (Tabernakel) atau di Bait Suci. Dulu, ketika Kemah Sembahyang didirikan di tengah perkemahan bangsa Israel, Tuhan hadir di situ. Tiang awan pada waktu siang dan tiang api pada waktu malam merupakan menifestasi hadirat Tuhan yang membentang dari langit ke ruang maha kudus dari kemah itu. Hadirat Tuhan memberikan kekuatan illahi bagi umatnya: ”Allah adalah dahsyat dari dalam tempat kudus-Nya; Allah Israel, Dia mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada umat-Nya” (Mzm 68:36). Karena itu, menghadap hadirat-Nya dengan pergi pada mezbah penyembahan merupakan kesukacitaan yang luar biasa: ”Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!” (Mzm 43:4).

Penyembahan di hadirat Tuhan adalah sumber kekuatan. Saat menyembah, Tuhan menyatakan manifestasi kehadiran-Nya, memberi penghiburan, kekuatan, dan kemuliaan bagi para penyembah. Itulah sebabnya pemazmur berkata: ”Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, Penolongku dan Allahku!” (Mzm 43:5). Selanjutnya pemazmur menyatakan perasaan sukacitanya dalam penyembahan di hadirat Tuhan: ”Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu, dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah orang-orang fasik. Sebab Tuhan adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan dari orang yang hidup tidak bercela” (Mzm 84:11-12).

Dalam konteks sekarang, era Perjanjian Baru, orang percaya adalah rumah Tuhan itu sendiri. Paulus mengingatkan demikian: ”Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (1 Kor 6:19). Tabernakel, Kemah Sembahyang, atau Bait Suci itu adalah orang percaya itu sendiri. Tuhan (Roh Kudus) sekarang hadir dan hendak memanifestasikan kehadiran-Nya di dalam diri setiap orang percaya.

Karena kita adalah Bait Roh Kudus maka, pertama, kita harus menjaga kekudusan. Namanya saja ”bait suci” maka harus kudus. Sebelum menjelaskan bahwa tubuh kita adalah Bait Roh Kudus, Paulus memperingatkan: ”Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri” (1 Kor 6:8). Kedua, hidup kita harus senantiasa diliputi suasana penyembahan sama seperti suasana dalam Bait Suci pada jaman dulu.

Di dalam Tabernakel atau Bait Suci, senantiasa terdapat mezbah pembakaran ukupan yang membubungkan asap yang berbau harum (Kel 30:1-10; 37:25-28). Mezbah ini berhadapan dengan tabut sehingga bisa dikatakan sebagai ’termasuk ke’ tempat yang maha kudus. Api itu harus senantiasa dijaga supaya tetap menyala sehingga Tuhan berkenan. Demikian juga api penyembahan dalam diri kita harus senantiasa terjaga, tidak menjadi redup dan kemudian mati. Dalam hal ini, Paulus menekankan pentingnya penyembahan yang komprehensif, baik penyembahan dengan akal budi maupun penyembahan dalam roh (1 Kor 14:15).

H. ROH KUDUS

September 14, 2009

1. KEHADIRAN ROH KUDUS

Ketika Tuhan dalam Pribadi Yesus hadir di muka bumi, segala masalah teratasi. Yang sakit disembuhkan, yang buta melihat, yang terhukum dibela, yang kelaparan dikenyangkan. Bagaimana setelah Yesus naik ke sorga? Bagaimana pula dengan nasib orang-orang percaya masa kini?

”TIADA YANG MUSTAHIL”

Roh Kudus hadir di sini

Mengalir di bait suci

Perkara ajaib pun terjadi

Kuasa mujizat nyata

Karna Roh Allah sedang bekerja

Tiada yang mustahil

Dan tiada yang sukar

Bila Roh Allah turut bekerja

Tiada yang mustahil

Bagi orang percaya

Karna Roh Allah turut bekerja

Di antara kita

Lagu Jonathan Prawira menyatakan bahwa kehadiran Tuhan dalam Pribadi Roh Kudus membawa berbagai mujizat dan perkara ajaib dalam hidup orang-orang percaya. Roh Kudus bertindak seperti Yesus yang waktu itu bekerja di tengah umat Israel. Roh Kudus sekarang bekerja di antara anak-anak Tuhan. Ia mengadakan mujizat-mujizat dan memberikan perkara-perkara ajaib.

Sebenarnya, prinsipnya, Roh Kudus dan Yesus itu satu adanya. Makanya, Roh Kudus disebut juga sebagai Roh Anak-Nya (Gal 4:6), Roh Kristus (Rom 8:9; 1 Ptr 1:11), Roh Yesus (Kis 16:7), dan juga Roh Yesus Kristus (Flp 1:19). Roh Kudus berperan sebagai Penolong dalam kehidupan Yesus Kristus, pertama, Roh Kudus terlibat dalam kelahiran-Nya dari perawan Maria. Maria mengandung bukan karena benih laki-laki tetapi karena Roh Kudus (Mat 1:20). Kedua, Roh Kudus terlibat dalam pertumbuhan-Nya. Ketiga, Roh Kudus terlibat dalam pelayanan-pelayanan-Nya. Mengenai pelayanan pengusiran setan yang dilakukan-Nya, Yesus memberi penjelasan: ”Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Mat 12:28). Keempat, Roh Kudus terlibat dalam memberi kekuatan pada saat Yesus dicobai iblis (Mat 4:1-11). Kelima, Roh Kudus terlibat dalam mujizat-mujizat-Nya. Keenam, Roh Kudus terlibat dalam penebusan-Nya. Ketujuh, Roh Kudus membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Kedelapan, Roh Kudus terlibat dalam kenaikan Yesus ke sorga.

Kehadiran dan pelayanan Pribadi Yesus di muka bumi di antara umat manusia terbatasi oleh waktu. Hanya tiga setengah tahun saja Yesus melancarkan pelayanan-Nya bersama para murid-Nya di bumi. Namun, Yesus berkata: ”Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yoh 14:16). Pribadi Penolong  yang dimaksud tiada lain adalah Roh Kristus itu sendiri. Dialah Roh Kudus itu.

Setelah Yesus naik ke sorga, Roh Kudus (Roh Kristus) tetap menyertai orang-orang percaya. Jadi, pada prinsipnya Yesus tetap menyertai dan bekerja di antara orang-orang percaya, yaitu dalam Pribadi Roh Kudus. Dengan demikian, pekerjaan dan pelayanan Yesus tetap diteruskan. Roh Kudus yang adalah Roh Kristus sendiri terus menyembuhkan, mengadakan mujizat, dan sebagainya. Penulis Ibrani menegaskan: ”Yesus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).. Kalau dulu Yesus menyembuhkan dan mengadakan mujizat, sekarang dan besok pun Ia masih melakukan hal-hal itu melalui Pribadi Roh Kudus.

Satu hal yang luar biasa, disamping berkarya secara langsung, Roh Kudus berkarya (menyembuhkan, mengadakan mujizat, dan sebagainya) melalui orang-orang percaya. Roh Kudus memberi, misalnya karunia mujizat dan karunia kesembuhan (band. 1 Kor 12:7-11), sehingga orang-orang percaya mampu melakukan perkara-perkara ajaib. Itulah sebabnya Yesus pernah berjanji: ”Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu” (Yoh 14:12).

I. BEKERJA AJAIB

September 14, 2009

1. CARA KERJA-NYA AJAIB (1)

Seringkali, kalau kita berdoa dan memohon pertolongan, kita berpikir dan berharap supaya Tuhan menolong kita menurut cara-cara kita. Kalau begitu caranya, berarti kita yang mengendalikan Tuhan. Kalau begitu caranya, berarti Yesus tak ubahnya satpam atau kurir yang disuruh-suruh seenak perut kita sendiri.

“KAU BEKERJA DENGAN CARA YANG AJAIB”

Di saatku tak melihatMu, kutetap percaya

Kau selalu tahu yang perlu, Kau lakukan bagiku

Di saat Kau terasa jauh, ku tetap percaya

Kau selalu tahu saatnya tuk bertindak bagiku

Kau bekerja dengan cara yang ajaib

Dan tak terduga di pikiranku

Untuk mendatangkan kebaikan bagiku

Yang mengasihiMu

Kau bekerja dengan cara yang ajaib

Atas segala persoalanku

Untuk mendatangkan kebaikan bagiku

Yang mengasihiMu

Lagu Jonathan Prawira ini mengajarkan prinsip-prinsip, pertama, iman tidak boleh situasional dan tidak menuntut fakta atau bukti lebih dulu: ”Di saatku tak melihat-Mu, kutetap percaya.” Kedua, kita harus percaya bahwa Tuhan itu tidak tinggal diam. Ketiga, Tuhan mendatangkan kebaikan dengan cara-cara-Nya sendiri yang ajaib.

Iman adalah tetap percaya meskipun kita tidak melihat (Ibr 11:1). Saat menghadapi masalah, kita harus percaya bahwa Tuhan ada dan Tuhan akan menolong, entah dengan cara yang bagaimana. Tentu saja manusiawi jika kita cenderung menebak-nebak bagaimana cara Tuhan menolong kita. Namun, penyerahan berarti memberi Tuhan kesempatan untuk berkreasi menurut pikiran dan metode-Nya sendiri.

Tuhan adalah Tuhan yang mempunyai pikiran sendiri yang sangat berbeda dengan pikiran kita. Rencana Tuhan itu berbeda jauh dengan rencana kita: ”Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:9). Paulus juga mengakui hebatnya pikiran Tuhan: ”O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!: (Rom 11:33).

Bangsa Israel tak punya iman manakala ancaman datang. Begitu jalan buntu, di depan laut dan di belakang tentara Mesir mengejar, mereka bersungut-sungut kepada Musa: ”Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini?” (Kel 14:11). Pikiran mereka sangat fatalistik. Tapi Tuhan bekerja dengan cara super kreatif, yaitu membelah lautan. Kata Tuhan kepada Musa: ”Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering” (Kel 14:15-16)

Mujizat air menjadi anggur di pesta Perkawinan Kana menunjukkan bagaimana Tuhan bekerja dengan cara yang ajaib. Waktu itu mereka kekurangan anggur. Melihat kondisi itu, ibu Yesus dengan kemrungsung melaporkan keadaan itu kepada Yesus dengan harapan supaya Yesus bertindak cepat. Yesus pun menjawab: ”Mau apakah engkau daripada-Ku ibu? Saat-Ku belum tiba” (Yoh 2:4). Rupanya Maria tanggap, tahu bahwa Yesus mempunyai cara-Nya sendiri. Karena itu, Maria berkata kepada para pelayan: ”Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:5). Itulah iman yang baik, yaitu memberi kesempatan kepada Tuhan untuk memilih jalan-Nya sendiri dalam memberi pertolongan. Sikap iman seperti itu membuka peluang pada mujizat-mujizat.

Pertolongan Tuhan atas Petrus juga menunjukkan cara kerja Tuhan yang ajaib. Waktu itu Petrus dipenjara dan jemaat terus mendoakannya dengan tekun (Kis 12:5). Ternyata, Tuhan membebaskan Petrus dengan cara yang luar biasa, yaitu mengirimkan malaikat yang secara ajaib membawa Petrus bebas keluar dari bui (Kis 12:6-14).

Demikian juga ketika Paulus dan Silas berada di dalam penjara. Tengah malam mereka berdua berdoa dan memuji Tuhan. Apa yang terjadi? Tuhan menyatakan kuasanya sedemikian sehingga terjadi gempa bumi dahsyat (Kis 16:25-26). Menurut Peter Wagner, kejadian waktu itu bukanlah gempa biasa (unusual earthquake). Pertolongan Tuhan kepada Paulus dan Silas merupakan tindakan sangat spesifik dari Tuhan (a very specific action of God).

2. CARA KERJA-NYA AJAIB (2)

Manusia mengenal apa yang disebut dengan mujizat atau keajaiban. Namun, ternyata, baik Tuhan atau iblis sama-sama bisa mengadakan mujizat. Bahkan mujizat yang dibuat para ahli sihir sering lebih menarik dan entertaining. Lalu, apa dan bagaimana mujizat yang asli dari Tuhan itu?

”MUJIZAT ITU NYATA”

Tak terbatas kuasaMu Tuhan

Semua dapat Kau lakukan

Apa yang kelihatan mustahil bagiku

Itu sangat mungkin bagiMu

Di saat ku tak berdaya

KuasaMu yang sempurna

Ketika kupercaya mujizat itu nyata

Bukan karna kekuatan namun RohMu ya Tuhan

Ketika kuberdoa mujizat itu nyata

Mujizat itu dekat di mulutku dan kuhidup oleh percaya

Lagu Jonathan Prawira ini menegaskan bahwa, pertama, Tuhan kita adalah Tuhan mujizat: ”Tak terbatas kuasa-Mu Tuhan; Semua dapat Kau lakukan; Apa yang kelihatan mustahil bagiku; Itu sangat mungkin bami-Mu.” Kedua, Tuhan mau menolong kita dengan cara mujizat. Ketiga, oleh kuasa dari Roh Kudus maka kita dapat mendapatkan dan bahkan melakukan mujizat-mujizat.

Pada waktu Musa mengadakan mujizat-mujizat di hadapan Firaun, para ahli sihir pun mendemonstrasikan mujizat-mujizat yang lain seperti dicatat dalam Kitab Suci: ”Kemudian Firaun pun memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir; dan mereka pun, ahli-ahli Mesir itu, membuat yang demikian juga dengan ilmu mantera mereka” (Kel 7:11). Iblis selalu menandingi dan suka meniru (simius dei). Dengan demikian diperlukan pemahaman mendalam mengenai Tuhan dan mujizat-mujizat-Nya.

Pertama, mujizat Tuhan adalah kejadian atau peristiwa yang ajaib atau ganjil, yang tidak wajar atau tidak mengikutti hukum alam pada umumnya. Itulah yang didefinisikan oleh Musa: ”Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya Tuhan; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyur. Engkau pembuat keajaiban” (Kel 15:11). Mujizat juga berasal dari kata Aram temah yang berarti ganjil: ”Betapa besarnya tanda-tanda-Nya dan betapa hebatnya mujizat-mujizat-Nya” (Dan 4:3a).

Kedua, mujizat yang dilakukan Tuhan adalah mujizat yang mempunyai kuasa atau kekuatan supranatural. Untuk mujizat yang dilakukan Yesus dipakai kata Yunani dunamis misalnya dalam Injil ditulis: ”Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat” (Mat 11:20).

Ketiga, Tuhan melalukan setiap mujizat bukan tanpa makna. Setiap mujizat dari Tuhan itu pernuh arti. Inilah yang membedakan dengan mujizat dari iblis. Mujizat air menjadi anggur di Kana bukan sekedar merupakan sebuah demonstrasi atau sebuah pertunjukan sulap, tetapi mengandung makna khusus untuk menyatakan kemuliaan Tuhan: ”Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya” (Yoh 2:11).

Keempat, Tuhan memberikan mujizat-mujizat dalam rangka pemberitaan Injil keselamatan. Injil mencatat demikian: ”Mereka pun pergilah memberitakan Injil  ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya” (Mrk 16:20).

Keempat, untuk tujuan penginjilan dan pelayanan, Tuhan memberikan otoritas berupa karunia Roh kepada orang-orang percaya untuk mengadakan mujizat-mujizat (1 Kor 12:10). Menurut Peter Wagner, karunia mujizat adalah kemampuan illahi yang diberikan Tuhan kepada beberapa anggota Tubuh Kristus untuk melakukan pelayanan mujizat bagi kepentingan Tubuh Kristus dan kemuliaan Kristus (Kepala Gereja). Jadi, karunia ini diberikan untuk kepentingan pelayanan, sama seperti karunia-karunia lainnya, bukan untuk kesombongan atau tujuan-tujuan lain.

Kelima, dalam mengerjakan mujizat Tuhan mengharapkan (tetapi tidak tergantung pada) iman orang percaya. Iman yang diperkatakan akan menciptakan mujizat seperti prosedur yang diformulasikan oleh Yesus: ”Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya” (Mrk 11:23).

J. MENOLONG

September 14, 2009

1. TUHAN MENOLONG (1)

Tuhan adalah Penolong, itu bukan hasil penyimpulan secara induktif saja. Tuhan sendirilah yang menyatakan dirinya sebagai Penolong bagi umat-Nya. Adapun sifat-Nya itu memang juga terbukti dari masa ke masa, dari generasi ke generasi.

”KAU ALLAH YANG HIDUP”

Sgala pertolongan bagiku dalam nama Tuhan

Pencipta langit dan bumi, Yesus

Engkaulah penjaga yang tak pernah sedetikpun terlelap

Ataupun tertidur

Penolongku yang setia

Ku kan memuji namaMu Tuhan di tempat kudusMu

Karna kutahu ini baik bagiku

Ku kan memanggil namaMu Tuhan seumur hidupku

Karna kutahu, Kau Allah yang hidup

Lagu karya Jonathan Prawira ini mengutarakan prinsip-prinsip bahwa, pertama, Tuhan adalah Sang Pencipta yang juga Penolong bagi umat-Nya. Kedua, sebagai Penolong, Tuhan senantiasa menjagai anak-anak-Nya. Ketiga, Tuhan adalah setia dalam hal memberi pertolongan. Keempat, saat menghadapi masalah, berserulah kepada Tuhan Sang Penolong itu.

Tuhan memang menyatakan diri sebagai Pencipta dan Penolong bagi umat-Nya. Tuhan mempunyai nama Elohim yang artinya adalah Pencipta yang Perkasa, Tuhan yang menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1). Menurut Elmer L. Towns, Elohim adalah sebutan untuk Tuhan sebagai Pribadi yang Mahatinggi, Pencipta semula, Pribadi yang sempurna, dan Tuhan yang kekal. Kata Elohim berasal dari kata El yang berarti Sang Pencipta. Kata Elohim ini muncul sebanyak 31 kali dalam pasal pertama Kitab Kejadian, di antaranya adalah: ”Elohim melihat” (Kej 1:4), ”Elohim menamai” (Kej 1:5), ”Berfimanlah Elohim” (Kej 1:6), ”Elohim menjadikan” (Kej 1:7), ”Elohim memberkati” (Kej 1:22), ”Elohim menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya” (Kej 1:27). Sebutan sebagai Elohim ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah Pribadi yang memiliki akal budi, perasaan, dan kehendak.

Tuhan Sang Pencipta (Elohim) memiliki kehendak untuk senantiasa menolong umat-Nya. Pemazmur menyebut Tuhan sebagai Elohim Ozer Li yang berarti Tuhan adalah Penolong: ”Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku” (Mzm 54:6). Luar biasa! Tuhan yang adalah Pencipta langit dan bumi itu adalah Penolong kita.

Sebagai Penolong, Tuhan berkomitmen untuk selalu menjagai umat-Nya. Hal itu diungkapkan oleh pemazmur sebagai berikut: ”Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah. Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu. Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. Tuhan akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan. Ia akan menjaga nyawamu. Tuhan akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya” (Mzm 121).

Pernyataan pemazmur bahwa Tuhan adalah Penjaga (shamar) yang tidak pernah tertidur dan terlelap mengingatkan kita akan ejekan nabi Elia terhadap nabi-nabi Baal. Waktu itu, dalam ”perlombaan” untuk membuktikan kuasa sesembahan masing-masing, 450 nabi palsu itu meminta tolong kepada Baal untuk mengirimkan api dari langit. Mereka berseru kepada Baal sepanjaang hari namun tak ada jawaban Lalu Elia mengejek: ”Panggilah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga” (1 Raj  18:27).

Kebenaran Tuhan sebagai Penolong juga terbukti melalui peristiwa demi peristiwa dari generasi ke generasi. Sejak Israel keluar dari Mesir sampai masuk ke Kanaan, pertolongan Tuhan itu nyata. Pengalaman Israel menghadapi berbagai tantangan, peperangan, ancaman, dan berbagai masalah juga membuktikan kebenaran itu. Pemazmur tak ragu mengatakan: ”Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (Mzm 46:2).

2. TUHAN MENOLONG (2)

Membicarakan pertolongan Tuhan tidak akan ada habisnya. Menjelang kematiannya, Musa menyimpulkan sekaligus mengingatkan kepada bangsanya bahwa Tuhan adalah Tuhan Penolong kita. Artinya, pertolongan Tuhan merupakan sebuah kebenaran sekaligus kenyataan.

”ADA KUASA DALAM NAMA-MU”

Sumber segala pertolonganku

Adalah di dalam namaMu

Sumber jawaban persoalanku

Semuanya kutemukan padaMu Tuhanku

Di saat hatiku berseru memanggil namaMu

Kau menylamatkanku

Kudapat semua yang kuperlu, dariMu Bapaku

Sbab ku tahu ada kuasa dalam namaMu

Masih berbicara tentang Tuhan Sang Penolong, lagu Jonathan Prawira ini menekankan, pertama, Tuhan adalah sumber segala pertolongan. Kedua, Tuhan memberi pertolongan untuk setiap persoalan yang kita hadapi. Ketiga, karena Ia adalah Penolong maka kita bisa berseru dan memanggil-Nya untuk minta tolong. Keempat, Bapa adalah Tuhan Penolong.

Kematian Musa merupakan peristiwa yang sebenarnya ironis. Hanya karena ketidaksetiaannya berkenaan dengan mujizat air di Meriba, Tuhan hanya memberi kesempatan kepadanya untuk melihat Tanah Perjanjian dari kejauhan dan tidak mengijinkan dirinya masuk ke Kenaan (Ul 32:51-52). Itulah Tuhan yang sejak awal menuntut ketaatan Musa. Namun, bukan berarti Tuhan tidak mengasihi Musa. Bahkan Tuhan sendirilah yang menguburkan Musa: ”Dan dikuburkan-Nyalah dia (Musa)  di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini” (Ul 34:6). Dan, pertolongan Tuhan di sepanjang hidup Musa sangat luar biasa. Tuhan pun menolong dirinya sehingga memiliki kondisi fisik yang tetap fit: ”Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang” (Ul 34:7).

Menjelang ajalnya, Musa mengingatkan bangsa Israel demikian: ”Berbahagialah engkau, hai Israel; siapakah yang sama dengan engkau? Suatu bangsa yang diselamatkan oleh Tuhan, perisai pertolongan dan pedang kejayaanmu. Sebab itu musuhmu akan tunduk menjilat kepadamu, dan engkau akan berjejak di bukit-bukit mereka” (Ul 33:29). Dari sini diungkapkan sebuah nama Tuhan, yaitu Jehovah Magen atau Tuhan perisai pertolongan kita.

Nama Jehovah Magen tentu saja berasal dari nama Jehova yang bearti Tuhan yang adalah Pribadi yang Ada dengan sendirinya yang menyatakan diri-Nya sendiri. Nama Jehova pertama kali muncul dalam Kitab Kejadian 2:4, dalam bahasa Indonesia (LAI) diterjemahkan sebagai ”TUHAN”. Dalam Kitab Keluaran 3:14, Tuhan menyatakan diri sebagai ”Aku adalah Aku” (”Firman Allah kepada Musa: Aku adalah Aku. Lagi Firman-Nya: Beginilah kau katakan kepada orang Israel itu: Akukah Aku telah mengutus aku kepadamu”). Dalam Perjanjian Lama nama Jehovah muncul sebanyak 6.823 kali.

Pemazmur banyak mengutarakan bahwa ”TUHAN” (Jehovah) adalah Penolong: ”Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri; untuk anak yatim Engkau menjadi penolong” (Mzm 10:14), ”Dengarlah, Tuhan, dan kasihanilah aku, Tuhan, jadilah penolongku” (Mzm 30:11), ”Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan. Dialah penolong kita dan perisai kita” (Mzm 33:20), ”Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah. Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku” (Mzm 42:6, 12; 43:5), ”Sesungguhnya Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku” (Mzm 54:6), ”Biarlah tangan-Mu menjadi penolongku, sebab aku memilih titah-titah-Mu” (Mzm 119:173), ”Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada Tuhan, Allahnya” (Mzm 146:5).

Sebagai Bapa, Tuhan adalah Penolong. Ia memberi bimbingan kepada anak-anak-Nya sendiri (Mzm 32:8). Ia melindungi anak-anak-Nya (Yoh 10:28-29). Ia juga mencukupi semua kebutuhan anak-anak-Nya (Mat 6:30-32).

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.