K. MENYEMBUHKAN

September 14, 2009

1. TUHAN SANG PENYEMBUH

Sejak berkembangnya gerakan Pentakosta dan Karismatik pada awal abad ke-20, Tuhan banyak memunculkan pelayanan-pelayanan kesembuhan illahi. Kenyataannya, mujizat-mujizat kesembuhan terjadi di seluruh dunia, baik melalui pelayanan para hamba-Nya, pelayanan-pelayanan gereja dan para-gereja (para church), maupun mujizat-mujizat yang langsung dikerjakan Roh Kudus secara pribadi lepas pribadi.

”MENERIMA KESEMBUHAN”

DarahMu berkuasa mengampuni dosaku

Dalam kuasa minyak kudusMu

Kau menyucikan diriku

SalibMu berkuasa menanggung smua sakitku

Dengan kuat kuasa firmanMu

Kau memulihkan hidupku

Oleh bilurMu ku tlah disembuhkan

Dari sakit dan kelemahan

Pada firmanMu aku percaya

Ku menerima kesembuhan

Lagu Jonathan Prawira membawa pesan tentang Tuhan yang adalah Sang Penyembuh. Salib Kristus bukan hanya memberi kesembuhan rohani berupa pemgampunan dosa, namun juga kesembuhan jasmani dari sakit-penyakit. Penebusan Kristus atas sakit penyakit adalah bagian dari iman Kristen yang mendasar.

Atas ilham Roh Kudus, rasul Petrus menulis demikian: “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Ptr 2:24). Adam Clarke mengatakan bahwa ini berbicara tentang penderitaan Kristus yang berkuasa menebus dosa dan menyembuhkan sakit rohani. Karena dosa maka rohani kita yang sakit dan menderita disebuhkan melalui penebusan Kristus. Wycliffe Bible Comentary melihat bilur-bilur Yesus sebagai ekspresi kasih Kristus.

Namun, ayat itu juga berbicara tentang penebusan Kristus atas sakit-penyakit jasmani setiap orang percaya. Ayat itu merefer pada kitab Yesaya 53:4-5 yang berbunyi demikian: ”Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Nubuatan Yesaya itu berbicara tentang penebusan Kristus atas sakit-penyakit jasmani. Hal ini juga ditegaskan dalam Injil Matius yaitu saat membahas tentang pelayanan kesembuhan yang dilakukan Yesus atas penyakit ibu mertua Petrus. Mengenai itu Injil Matius menegaskan bahwa: ”Hal itu terjadi supaya genapkah firman yang disampaikan pada nabi Yesaya: Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat 8:17).

Selama melayani di muka bumi, Yesus sendiri adalah Penyembuh. Banyak mujizat kesembuhan diadakannya. Orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, orang tuli mendengar, bahkan orang mati dibangkitkan-Nya kembali. Yesus sangat peduli dengan penderitaan manusia karena deraan penyakit. Kehadiran-Nya senantiasa membawa kesembuhan. Bahkan, hanya dengan menjamah ujung jumbai jubah-Nya saja seorang wanita sakit pendarahan menerima mujizat kesembuhan (Mat 9:20).

Mengenai pelayanan kesembuhan, Yesus mampu. Suatu kali seorang ayah yang anaknya menderita sakit berkata kepada Yesus: ”… sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami” (Mrk 9:22). Jawab Yesus adalah: ”Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya” (Mat 9:23). Artinya, Yesus adalah Penyembuh dan kita akan menerima kesembuhan dari pada-Nya jika kita percaya. God can! God is able!

Yesus juga mau menyembuhkan kita. Kemauan Yesus itu terungkap dari sebuah peristiwa yang dicatat dalam Injil: ”Seorang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku. Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: Aku mau, jadilah engkau tahir. Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir” (Mrk 1:40-42). Dua Injil lainnya juga mencatat kemauan Yesus untuk menyembuhkan tersebut (Mat 8:3; Luk 5:13). Yesus mau menyembuhkan karena itu termasuk dalam karya penebusan-Nya untuk manusia berdosa.

Penebusan yang dilakukan Yesus di kayu salib adalah penebusan atas segala kutuk yang menimpa manusia berdosa. Paulus menulis demikian: ”Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib” (Gal 3:13). Salah satu kutuk yang seringkali menguasai manusia adalah kutuk sakit penyakit dan kelemahan jasmani. Yesus menebus sakit-penyakit itu.

Sejak era Perjanjian Lama, Tuhan telah menyatakan diri sebagai Jehoba Rapha yang artinya adalah Tuhan yang menyembuhkan. Tuhan memberi janji tentang kesembuhan sebagai berikut: ”Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya; dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit mana pun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau” (Kel 15:26). Elmer L. Towns menegaskan bahwa Tuhan adalah Sang Jehova Rapha yang menyembuhkan baik penyakit fisik, mental, sosial, maupun spiritual.

Tuhan memberikan kesembuhan dan kesehatan melalui dua cara. Pertama, melalui pencegahan atas sakit-penyakit. Maksudnya, jika kita hidup benar menurut perintah-perintah-Nya, Tuhan menjamin kita tidak akan mengalami sakit. Hal itu jelas karena banyak penyakit disebabkan karena dosa. Misalnya karena dosa perzinahan maka orang menderita sakit AIDS.

Kedua, Tuhan memberikan kesembuhan melalui proses pemulihan atas sakit-penyakit. Pada ayat-ayat sebelum Keluaran 15:26 itu, yaitu ayat 23-25 dicatat peristiwa tentang bagaimana Tuhan menyuruh Musa menawarkan air pahit Mara yang berbahaya untuk diminum. Hal itu jelas menunjukkan bahwa Tuhan mau merubah hal buruk yang menjadikan sakit menjadi baik dan sehat. Yang unik, untuk metahirkan air pahit itu, Tuhan menyuruh Musa melemparkan kayu ke dalam air itu. Elmer L Towns mengatakan bahwa kayu itu melambangkan (kayu) Salib Kristus. Simbol itu menegaskan bahwa penyaliban Kristus bukan hanya menebus manusia dari dosa tetapi juga dari sakit penyakit.

L. MENGANGKAT

September 14, 2009

1. TUHAN MENGANGKAT (1)

Dalam beberapa kebudayaan dan agama diajarkan bahwa kehidupan itu seperti roda, kadang di atas dan kadang di bawah. Banyak pula yang mengajarkan bahwa naik atau turunnya hidup itu tergantung nasib dan takdir. Bagaimana dengan tindakan Tuhan? Akankah Dia selalu mengangkat kita?

“KAU ANGKATKU”

BersamaMu aku tenang

BersamaMu kubahagia

BersamaMu ada damai

Walaupun di tengah badai

Kau angkatku lebih tinggi,

Terbang bagai rajawali

Dengan kekuatan sayapMu

Melintasi badai hidup

Kau angkatku smakin tinggi

Ke hadiratMu yang suci

Dalam naungan sayapMu

Tak akan tergoyahkan imanku

Syair lagu Jonathan Prawira bernuansa simbolik ini mengajarkan tentang optimisme imani Kristen. Pertama, di dalam Kristus ada ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian. Kedua, bersama Kristus kita akan terus naik, semakin tinggi. Badai yang datang tidak akan menggoyahkan kita dan justru menjadi pemicu untuk terbang lebih tinggi bersama Tuhan.

Tuhan menetapkan anak-anak-Nya seperti ”rajawali” yang selalu naik dalam segala aspek kehidupannya. Nabi Yesaya menyampaikan janji firman Tuhan: ”Dia memberi kekuatan kepada orang yang lelah dan menambah semangat kepada orang yang tidak berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi letih” (Yes 40:29-31).

Dalam firman itu, Yesaya menyatakan Tuhan sebagai Elohim (Pencipta) dan Jehova (Tuhan yang adalah Pribadi yang ada dengan sendirinya). Dalam Alkitab LAI disebut sebagai ”Tuhan ialah Allah yang kekal” (Yes 40:28). Elohim yang adalah Jehova senantiasa memberikan kekuatan untuk anak-anak-Nya senantiasa terbang naik seperti rajawali yang perkasa. Bersama Tuhan, kita melebihi semangat dan produktifitas orang-orang muda. Kekuatan dari Tuhan menjadikan kita mengalahkan teruna-teruna yang tidak beriman di dalam Kristus.

Mengenai kehidupan orang percaya, Tuhan berjanji untuk memberkati sehingga kita selalu mengalami progres dan eskalasi. Inilah salah satu janji berkat itu: ”Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu” (Ul 28:11). Hidup beribadah di dalam Tuhan mengandung berkat kenaikan taraf dalam berbagai aspek kehidupan.

Berbicara tentang rajawali, berbicara tentang perlindungan Tuhan. Sayap Tuhan melindungi kita. Dalam situasi yang tidak aman, Tuhan adalah tempat perlindungan. Pemazmur menaikkan mazmur doa seperti ini: ”Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu” (Mzm 17:8), ”Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu” (Mzm 57:2). Pemazmur juga mengatakan kepercayaan pada Tuhan: ”Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok” (Mzm 91:4).

Di sisi lain, mengikut Tuhan tidak berarti tinggal dalam zona nyaman. Tuhan akan bertindak seperti induk rajawali yang melatih anak-anaknya supaya bisa terbang sendiri. Cara Tuhan digambarkan sebagai berikut: ”Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, demikianlah Tuhan sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah asing menyertai dia” (Ul 32:11). Karena kasih maka Tuhan seringkali menyesah dan menghajar kita dengan berbagai masalah dengan tujuan melatih iman supaya kita terbang dalam iman (band. Ibr 12:5-6). Begitulah cara Tuhan menolong kita supaya bisa terbang tinggi.

2. TUHAN MENGANGKAT (2)

Hukum rohani seringkali bertolak belakang dengan hukum dunia. Orang dunia bilang bahwa hemat pangkal kaya. Alkitab, sebaliknya: menabur banyak menuai banyak. Dunia mengatakan bahwa pemimpin adalah penguasa. Alkitab mengajarkan bahwa pemimpin adalah hamba. Tentang kenaikan taraf hidup, siapa yang merendahkan diri justru akan ditinggikan.

”KE TINGKAT YANG LEBIH TINGGI”

Kaulah yang menetapkan tiap langkahku

Slalu di dalam rencana besarMu

Walau seribu rebah di sisiku
Ku teguh di dalam kasihMu

Kaulah yang menyertai tiap langkahku

Agar sampai ke tujuan indahMu

Bilaku jatuh takkan tergeletak

Kubangkit di dalam kuasaMu

Biar saat ini kurendahkan diriku lagi

Dalam tangan yang kuat

Untuk membentukku

Sbab akhirnya nanti Kau sendiri

Yang mengangkatku

Ke tingkat yang lebih tinggi

Dalam syair lagu Jonathan Prawira ini dikatakan bahwa, pertama, Tuhan senantiasa menyertai langkah-langkah kehidupan orang-orang percaya. Kedua, Tuhan mengangkat anak-anak-Nya yang mau merendahkan diri. Kepada mereka Tuhan menyatakan kekuatan tangan-Nya untuk membentuk dan mengangkat kehidupan kita.

Penyertaan Tuhan membuat kita aman. Bahaya yang mengancam di kanan kiri, muka belakang. tak akan menjamah kehidupan kita. Pemazmur melukiskannya demikian: ”Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang. Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik. Sebab Tuhan ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu” (Mzm 91:5-9).

Dalam Kristus ada peninggian. Prinsipnya adalah siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan. Yesus menegaskan hukum rohani itu: ”Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12). Tuhan berpihak kepada orang-orang yang rendah hati yang merendahkan diri di hadapan-Nya. Mengenai hal itu rasul Petrus menulis: ”Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (2 Ptr 5:6). Jadi, Tuhan sendirilah yang akan meninggikan anak-anak-Nya yang rendah hati.

Rendah hati mendahului peninggian adalah prosedur illahi. Yesus sendiri melalui proses yang demikian. Paulus menunjukkan kebenaran itu sebagai berikut: ”Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Flp 2:8-9).

Dalam kehidupan anak-anak Tuhan, prosedur ”direndahkan untuk ditinggikan” seperti yang dialami Yesus itu rupanya merupakan jalan Tuhan. Yusuf misalnya, sebelum akhirnya menjadi the second leader di Mesir, ia mengalami direndahkan sejak masa remajanya. Yusuf ditolak oleh saudara-saudaranya, dimasukkan sumur, dan dijual ke Mesir. Yusuf meniti karir dari bawah sebagai budak. Baru naik sedikit, Yusuf difitnah dan dipenjarakan. Sampai menjelang kenaikannya Yusuf masih diperlakukan buruk, yaitu dilupakan: ”Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya” (Kej 40:23). Demikian juga Daniel, harus melewati dijebloskan ke goa singa sebelum karir kepemimpinan politiknya meroket.

Pada dasarnya, Tuhan adalah Sang Promotor. Ia memotivasi dan selalu mengupayakan jalan supaya anak-anak-Nya mengalami peningkatan. Dialah hakim yang berkuasa meninggikan kita. Inilah catatan pemazmur: ”Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim; direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain” (Mzm 75:7-8). Nama-Nya adalah Jehova Hasophet, Tuhan adalah Hakim (Hak 11:27).

M. PENJUNAN

September 14, 2009

1. PEMBENTUKAN ILLAHI (1)

Banyak orang Kristen mau diselamatkan dan ditebus saja, tetapi tidak mau bertobat. Keselamatan tak boleh hanya dilihat sebagai tindakan dari pihak Tuhan semata. Keselamatan melibatkan juga tindakan dari pihak manusia, yaitu beriman dan bertobat.

”SEPERTI YANG KAUINGINI”

Bukan dengan barang fana Kau membayar dosaku

Dengan darah yang mahal tiada noda dan cela

Bukan dengan emas perak Kau menebus diriku

Oleh segenap kasih dan pengorbananMu

Kutelah mati dan tinggalkan cara hidupku yang lama

Semuanya sia-sia dan tak berarti lagi

Hidup ini kuletakkan pada mezbahMu ya Tuhan

Jadilah padaku seperti yang Kau ingini

Lagu Jonathan Prawira ini menyampaikan pesan, pertama, Tuhan telah menebus kita dari hukuman dengan kematian Kristus. Sebuah tebusan yang mahal: ”Bukan dengan emas perak Kau menebus diriku.” Kedua, karya penebusan itu semestinya kita tanggapi dengan respon untuk bertobat, meninggalkan kehidupan lama dan memberikan hidup untuk Tuhan saja.

Penebusan merupakan tindakan Tuhan yang bersifat pro-aktif. Menurut Dr. Chris Marantika, dalam Perjanjian Lama penebusan dipakai berhubungan dengan, pertama, kegiatan yang dilakukan Tuhan untuk membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir (Kel 6:6; 15:13). Kedua, kegiatan Tuhan untuk membebaskan umat-Nya secara pribadi dari kesengsaraan (Ayb 19:25). Ketiga, kegiatan Tuhan untuk membebaskan manusia dari dosa-dosa (Yes 59:20).

Konsep penebusan itu sendiri membutuhkan pembayaran yang mahal. Penebusan berasal dari kata agorazo yang berarti membeli, membayar, menyerahkan sesuatu sebagai pembayaran yang setimpal bagi sesuatu barang lainnya. Kematian Kristus itu membayar dosa manusia sehingga manusia itu tertebus. Sungguh suatu pembayaran termahal di alam semesta ini. Bukan dengan emas atau perak kita ditebus, tetapi dengan darah Kristus.

Keselamatan diberikan dengan cuma-cuma karena kasih Tuhan. Kita diselamatkan bukan karena amal saleh atau kebaikan atau usaha penyucian diri. Kita selamat karena anugerah (sola gratia) dan karena iman (sola fide) kepada Yesus. Namun, iman dan pertobatan (repentation) itu merupakan satu kesatuan. Beriman kepada Yesus dan tindakan bertobat merupakan satu kesatuan yang disebut Chris Marantika dsebagai ”perpalingan” (conversion). Pertobatan sangat ditekankan oleh Yohanes Pembaptis, Yesus, dan para rasul (Mat 3:2; 4:17; Mrk 6:12; Kis 2:38; 20:21; 26:20).

Mengenai kesatuan antara iman dan pertobatan itu dijelaskan oleh Chris Marantika sebagai berikut. Pertobatan adalah ”elemen negatif” dari ”perpalingan” (conversion) karena berkaitan dengan kegiatan berpaling dari dosa. Tuhan memerintahkan manusia agar bertobat dari dosa (Kis 17:30) dan berpaling kepada keselamatan yang dari Tuhan (Yes 45:22; Rat 3:40; Yeh 18:30). Pertobatan itu adalah tindakan dari pihak kita (manusia) yang mencakup aspek intelek, emosi, dan kemauan. Bertobat mencakup kesadaran akan rasa bersalah dan menyesal dengan sungguh-sungguh (Mzm 27:4).

Adapun beriman adalah elemen ”positif” dari ”perpalingan” (conversion). Kita dibenarkan oleh Tuhan karena percaya. Sama seperti Abraham dibenarkan Tuhan karena kepercayaannya (Kej 15:6; Rom 4:3; Gal 3:6; Yak 2:23). Iman yang menyelamatkan itu adalah iman kepada pekerjaan penyelamatan oleh Yesus Kristus yang sempurna dan sudah selesai (Yoh 3:18; 20:31; Kis 8:13; Rom 1:16; 3:22; Gal 3:20).

Jadi, Tuhan yang telah memberi anugerah keselamatan itu menuntut supaya kita perpaling, yaitu bertobat dan beriman. Tuhan menuntut itu karena Ia mengasihi kita dan dalam rangka usaha-Nya supaya kita beroleh kasih karunia-Nya. Inilah yang dilakukan Tuhan dan yang dituntut-Nya atas kita: ”Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Why 3:19).

2. PEMBENTUKAN ILLAHI (2)

Kekristenan adalah proses pembentukkan. Setiap proses itu menyakitkan: emas harus melewati pembakaran dan berlian harus diasah. Mutiara juga terbentuk dari penderitaan kerang untuk sekian lama. Namun begitu jadi, indah, dan berguna. Tuhan memberi pengajaran khusus mengenai masalah ini.

“SEPERTI BEJANA”

Seperti tanah liat dalam tangan penjunan

Demikianlah hidupku dalam tanganMu Tuhan

Di tengah cobaan, dera dan aniaya

Akan membuat ku sempurna menjadi bejana indah

Seperti bejana Tuhan bentuklah

Hatiku ubahkanlah seturut kehendakMu

Seperti bejana Tuhan pakailah

Hidupku jadikanlah sesuai rencanaMu

Lagu Jonathan Prawira ini mengajarkan tentang, pertama, Tuhan dalah Sang Penjunan yang membentuk kita. Anak-anak Tuhan itu ibarat tanah liat yang dibentuk menjadi bejana yang indah. Kedua, setelah dibentuk bagus, kita akan dipakai menjadi alat bagi kemuliaan Tuhan.

Mengenai pembentukan bejana, suatu kali Tuhan memberi pengertian Firman Tuhan kepada nabi Yesaya dengan memakainya sebagai ilustrasi. Tuhan menyuruh sang nabi pergi menjumpai tukang periuk untuk belajar sesuatu: “Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu” (Yes 18:2). Yesaya mendatangi tukang periuk bukan dengan tujuan untuk mengkotbahinya, tetapi untuk mendapatkan inspirasi. Peristiwa nyata yang dilihatnya berfungsi seperti ”penglihatan” yang di dalamnya terkandung hikmat Tuhan.

Pelajaran pertama dari tukang periuk adalah, Tuhan mempunyai kekuasaan yang tak bisa dilawan atau ditentang oleh banga Israel, bangsa-bangsa, dan umat manusia. Kita hanyalah seperti tanah liat di tangan Tuhan: ”Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk, hai kaum Israel! Demikianlah firman Tuhan. Sungguh seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!” (Yes 18:6). Bangsa-bangsa tak bisa melawan Tuhan, mereka hanyalah tanah liat: ”Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca. Sesungguhnya, pulau-pulau tidak lebih dari abu halus beratnya” (Yes 40:15).

Kekuasaan Tuhan tak terbantahkan. Kalau Tuhan akan menghancurkan atau membangun, bangsa-bangsa, manusia tak bisa melawan-Nya. Itulah otoritas Tuhan. Alkitab menegaskan tentang kedaulatan Tuhan yang menuntut penundukan diri dan ketaatan kita itu: ”Dia yang membuat bangsa-bangsa bertumbuh, lalu membinasakannya, dan memperbanyak bangsa-bangsa, lalu menghalau mereka” (Ayb 12:23). Ia seperti tukang periuk yang membuat bejana namun bisa saja Ia langsung menghancurkannya begitu bejana itu tidak berkenan di mata-Nya (Yer 18:4). Kita harus takut akan Dia supaya tidak dibinasakan-Nya.

Karena itu, kita harus memberi diri untuk mau dan taat dibentuk menurut kesukaan-Nya. Kalau kita menuruti keinginan diri dan memberontak, Tuhan bisa menghancurkan kita seperti bejana yang salah garap itu. Taat dan takut akan murka Tuhan merupakan kesatuan seperti ditulis Yesaya: ”Tetapi sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kemilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu. Ya, Tuhan janganlah murka amat sangat dan janganlah mengingat-ingat dosa untuk seterusnya!” (Yes 64:8-9).

Pelajaran kedua, jika kita salah dan tidak berkenan namun mau bertobat, Tuhan pun mengampuni: ”Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka” (Yer 18:8). Artinya, kekuasaan-Nya sebagai tukang periuk atas tanah liat adalah kekuasaan demi kebaikan. Pada dasarnya, tujuan tukang periuk itu adalah membuat tanah liat menjadi bejana yang indah dan berguna.

Jadi, sikap tanah liat yang terbaik adalah taat, tunduk, merendahkan diri, berserah, dan mengikuti apa kemauan Sang Penjunan. Kalau bersalah, cepat-cepat bertobat, sebab Tuhan pada dasarnya baik. Janji Tuhan adalah: ”Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka” (2 Taw 7:14).

N. TUAN

September 14, 2009

1. MENJADI HAMBA TUHAN (1)

Seorang tuan akan memberikan pekerjaan-pekerjaan kepada para hamba-Nya. Sebagai hamba yang baik, kita harus senantiasa ready for use. Bahkan hamba yang baik selalu haus akan tugas dan bekerja keras untuk memberikan karya yang terbaik.

”INI AKU UTUSLAH, TUHAN”

Kerinduanku slalu berada di tempat Kau berada

Kerinduanku slalu bekerja seperti Bapaku bekerja

Kudengarkan Tuhan isi hatiMu, saat Kau panggil ku siap

Ini aku utuslah Tuhan, ini aku utuslah Tuhan

Ke mana pun Kau pimpin ke negeri yang Kau pilih

Ini aku utuslah Tuhan dan ku kan pergi

Lagu Jonanthan Prawira menumbuhkan kerinduan untuk melayani Tuhan: ”Kerinduanku slalu bekerja seperti Bapaku bekerja”. Lagu ini mendorong kita untuk senantiasa siap memenuhi tugas dan panggillan illahi: ”Saat Kau panggil aku siap”. Sebagai gamba yang baik kita harus siap untuk ditugaskan: ”Ini aku utuslah Tuhan. Ini aku utuslah Tuhan”.

Sebagai Tuan (Adonai), Tuhan memarahi Musa – hamba-Nya – yang tidak sigap menerima pengutusan dari-Nya. Musa menyebut Tuhan itu sebagai Jehova (Pribadi yang Ada dengan sendirinya) dan Adonai (Tuan atas para hamba). Musa berdalih-dalih kepada-Nya untuk menghindari pengutusan itu: ”Lalu kata Musa kepada TUHAN (Jehova): Ah, Tuhan (Adonai), aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah” (Kel 4:10). Meskipun Tuhan menguatkannya, Musa masih menolak pengutusan Tuannya itu: ”Ah, Tuhan (Adonai), utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus” (Kel 4:13). Menghadapi perbantahan itu, Tuhan menjadi murka namun tetap mengutus Musa sebagai hamba-Nya (Kel 4:14-17).

Dari pengutusan Musa dapat ditarik pelajaran bahwa sebagai hamba kita harus taat manakala Tuan (Adonai) mengutus kita. Kemalasan, keengganan, dan perbantahan menyebabkan Sang Tuan marah. Sebagai Adonai, Tuhan senantiasa mencari orang-orang yang mau menjadi hamba-hamba-Nya. Itulah yang diketahui nabi Yesaya yang kemudian meresponnya dengan sangat sigap: ”Lalu aku mendengar suara Tuhan (Adonai) berkata: Siapakah yang akan Kuutus dan siapakah yang mau pergi untuk Aku? Maka suhutku: Ini aku, utuslah aku” (Yes 6:8).

Dalam pengutusan kepada Yeremia, Kitab Suci menunjukkan eksistensi dan tindakan Tuhan sebagai Jehova dan Adonai. Tuhan Sang Jehova mengutus Yeremia untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa (Yer 1:4). Kalau Musa enggan, Yeremia merasa minder dan tidak konfiden dengan tugas itu karena merasa masih yunior, kata Yeremia kepada Tuannya: ”Maka aku menjawab: Ah, Tuhan (Adonai) Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda” (Yer 1:6). Kemudian, Tuhan bukan hanya menguatkan tetapi juga mengurapi hamba-Nya itu supaya bisa menjalankan tugas panggilan-Nya: ”Tetapi TUHAN (Jehova) berfirman kepadaku: ”Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan…. Lalu TUHAN (Jehova) mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku….” (Yer 1:7-9).

Hubungan hamba dan tuan juga jelas dalam hubungan Gideon dengan Tuan (Adonai). Karena takut maka Tuhan mengirimkan malaikat untuk menguatkan Gideon, kata malaikat itu kepadanya: ”TUHAN (Jehova) menyertai engkau” (Hak 6:12). Menanggapi hal itu, sebagai hamba Gideon masih ragu dan berbicara kepada Tuannya: ”Ah, Tuanku (Adonai), jika TUHAN (Jehova) menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami?” (Hak 6:13a). Mengenai keraguan itu, Tuhan menguatkan demikian: ”Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!” (Hak 6:14).

Hamba harus senantiasa meminta petunjuk kepada tuannya. Itulah yang dilakukan Yosua, katanya kepada Tuhan: ”O Tuhan (Adonai), apakah yang akan kukatakan , setelah orang Israel lari membelakangi musuhnya?” (Yos 7:8). Tuhan pun memberinya petunjuk-petunjuk sehingga Yosua pun meraih kemenangan gemilang.

Meski jatuh bangun juga, Daud adalah hamba Tuhan yang baik. Dalam doa syukurnya yang panjang lebar Daud menyebut Tuhan sebagai Tuhan (Adonai) dan Pribadi yang Ada dengan sendirinya (Jehova) beberapa kali (2 Sam 17:18-29). Hal itu menunjukkan komitmen Daud kepada Tuhan yang adalah Tuannya.

2. MENJADI HAMBA TUHAN (2)

Setiap orang percaya diberi tugas untuk memberitakan Injil. Tugas itu diberikan tudak hanya untuk para pendeta atau penginjil, tetapi setiap anak Tuhan. Dengan demikian Tuhan menuntut buah-buah pelayanan itu dari setiap kita.

”SAMPAI KE UJUNG BUMI”

Kini saatnya injilMu Tuhan

Tersiar di seluruh negeri

FirmanMu tak kan kembali percuma

Mashyur sampai ke ujung bumi

AnugrahMu sampai ke ujung bumi

Patahkan belenggu dosa

KeselamatanMu sampai ke ujung bumi

Sgala bangsa kan bersuka (karenaMu)

Lagu karya Jonathan Prawira ini memberi penegasan tentang tugas penginjilan yang sudah sangat mendesak. Setiap anak Tuhan diperintahkan untuk menyebarkan Injil ke seluruh penjuru dunia. Dengan pemberitaan itu maka anugerah Tuhan yang berupa keselamatan di dalam Kristus Yesus itu dapat memberkati seluruh bumi.

Tuhan menempatkan orang percaya di dalam dunia (kosmos) ini bukan tanpa tujuan. Orang Kristen di muka bumi ini mempunyai dua kewarganeragaan, yaitu sebagai warga dunia (Rom 13) dan warga Kerajaan Sorga (Flp 3:21). Berkenaan dengan itu maka Tuhan memberi tugas yang bersifat kontributif bagi keduanya, dunia dan sorga. Pertama, Tuhan memberikan apa yang disebut oleh Dr. Chris Marantika sebagai ”mandat pembangunan”. Ini berbicara tentang tugas orang Kristen untuk membangun atau mengelola keadaan bumi ini supaya menjadi baik (Kej 1:18; 3:15). Ini merupakan ”mandat pembangunan jasmaniah”.

Kedua, adalah ”mandat pembangunan rohani” yang tiada lain adalah penginjilan. Amanat Agung diberikan Tuhan sebagai tugas dari orang-orang percaya. Yesus memberi perintah: ”Pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20). Jangkauan penginjilan adalah seluruh dunia, semua bangsa. Targetnya adalah semua manusia di muka bumi ini menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Penginjilan dunia adalah tugas sentral bagi orang Kristen. Tema sentral firman Tuhan adalah Yesus Kristus. Tugas penginjilan sifatnya wajib dan bukannya optional. Paulus menegaskan kepada Timotius: ”Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tergorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim 4:2).

Karena tugas penginjilan sangat utama, sangat penting, dan sangat mendesak maka Tuhan berjanji menyertai secara khusus. Setelah memberi Amanat Agung, Yesus berjanji: ”Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman” (Mat 28:20). Yesus memberi perintah penginjilan dan berjanji menyertai kita dengan kuasa ajaib-Nya: ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk…. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku….” (Mrk 16:15-18). Yesus berjanji memberi Roh Kudus supaya kita bisa bergerak ke seluruh bumi, sampai ke ujung bumi, untuk memberitakan Injil keselamatan (Kis 1:8).

Tuhan sangat serius dalam menuntut komitmen kita untuk memberitakan Injil dengan benar. Orang yang memutarbalikkan Injil, mengacaukan penginjilan, atau melakukan penginjilan dengan cara yang salah akan terkutuk (Gal 1:7-8). Adapun orang Kristen masa kini kadang merespon perintah menginjil itu dengan tiga cara. Pertama, takut karena  situasi berbaya (bisa ditolak, dianiaya, dan sebagainya). Kedua, mereduksi penginjilan itu sedemikian rupa sehingga menjadi sekedar pelayanan sosial. Ketiga, mengalihkan penginjilan pada jiwa sesat ke ”penginjilan semu” dengan menjangkau warga Kristen dari gereja lain untuk masuk ke gereja kita.

Bertolak dari kitab Kisah Para Rasul 1:8, Peter Wagner menjelaskan ada empat jenis penginjilan. Pertama, penginjilan E-1, yaitu menginjili orang yang belum percaya yang kebudayaannya sama dengan kebudayaan kita sendiri. Kedua, penginjilan E-2, yaitu menginjili orang yang belum percaya yang kebudayaannya sedikit berbeda dengan kebudayaan kita sendiri. Ketiga, penginjilan E-3, yaitu menginjili orang yang belum percaya yang kebudayaannya berbeda sama sekali dengan kebudayaan kita sendiri. Keempat, penginjilan E-0, yaitu pseudo evangelism, ini bukan penginjilan sebab hanya menjangkau domba dari gereja lain untuk dibawa masuk ke gereja kita sendiri.

Hello world!

September 14, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.